SIWALIMA.id > Berita
Ibu Rumah Tangga Diberi Pemahaman Tentang HIV dan AIDS
Online | Minggu, 29 Juni 2025 pukul 00:34 WIT

AMBON, Siwalimanews – Berbicara tentang Human Immunodeficiency Virus/ Aquired Immunodeficiency Syndrome  (HIV/AIDS) , bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga tantangan sosial yang sering disertai stigma dan diskriminasi terhadap penderitanya. Hal ini terkadang muncul, karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang virus ini.

Untuk memberikan pemahaman itu, maka tim dosen dan mahasiswa STIKES Prof Dr JA Latumeten Ambon menjalankan program pengabdian masyarakat yang menyasar ibu-ibu rumah tangga di kalangan gereja, yang dipusatkan di Gedung Gereja Eden Kudamati, Jumat (27/6) siang.

Tim dosen yang terdiri dari Rita Kombong dan Glorya Riana Latuperissa yang juga pemateri dalam kegiatan tersebut, bersama Sylvianovelista R Losoiyo dan Wisye Tutupary dari Yayasan Inset berharap, melalui pendekatan ibu rumah tangga dari Jemaat Eden Kudamati, dapat memberikan informasi yang benar mengenai HIV/AIDS, termasuk cara penularan, pencegahan, serta perlakuan yang layak terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Hal ini bertujuan, untuk mengubah cara pandang masyarakat dan mengurangi stigma terhadap ODHA,” ujar Ketua tim dosen Rita Kombong kepada Siwalimanews usai kegiatan tersebut.

Edukasi yang diberikan ini kata Rita, meliputi pelatihan komunikasi efektif, perawatan luka, serta penguatan peran keluarga, khususnya ibu rumah tangga dalam mendampingi anggota keluarga yang hidup dengan HIV.

Pasalnya, dengan memahami fakta dan menghilangkan mitos yang salah, masyarakat akan lebih mampu menerima ODHA sebagai bagian dari komunitas tanpa diskriminasi.

“Kami memilih ibu-ibu rumah tangga karena mereka adalah figur sentral dalam keluarga. Mereka bisa menjadi pendukung utama untuk memastikan ODHA tetap menjalani pengobatan secara teratur,” ucapnya.

Menurutnya, berdasarkan data pasien gagal pengobatan atau loss follow up (LFu) hingga Maret 2025, tercatat sebanyak 528 ODHA di Kota Ambon sekitar 20 kasus berada di Kecamatan Nusaniwe. Kondisi ini menandakan masih kurangnya pemahaman dan dukungan sosial terhadap penderita HIV, terutama dari lingkungan terdekat.

Untuk itu, dalam edukasi ini, peserta diberikan informasi penting, bahwa HIV tidak menular melalui pelukan, bersalaman, udara, makanan, atau gigitan nyamuk. Selain itu, diperkenalkan pula gejala umum HIV seperti demam, diare kronis, sariawan, pembengkakan kelenjar getah bening, dan batuk berkepanjangan.

“Kerja sama dengan gereja dinilai strategis sebagai saluran informasi yang efektif. Melalui momen-momen ibadah, pesan edukatif mengenai HIV dapat disampaikan secara rutin kepada jemaat,” cetusnya.

Pada kesempatan itu, peserta juga diberi pemahaman mengenai terapi antiretroviral, yakni pengobatan yang tidak menyembuhkan HIV, tetapi mampu menekan jumlah virus di dalam tubuh serta memungkinkan penderita hidup sehat dan produktif. Pengobatan ini tersedia secara gratis di fasilitas kesehatan tertentu.

Namun, stigma sosial terhadap ODHA masih menjadi persoalan serius. Bentuk diskriminasi seperti penolakan layanan kesehatan, pemutusan hubungan kerja, hingga pengucilan di lingkungan sekolah dan masyarakat masih sering terjadi.

“Kita harus memberikan dukungan, bukan menjauhi. Jika keluarga menolak, ODHA bisa mengalami stres yang memperparah kondisi kesehatannya,” tuturnya.

Ia berharap, para ibu rumah tangga yang mengikuti kegiatan ini, diharapkan menjadi agen perubahan di komunitas mereka, menyebarkan informasi yang benar, dan membangun lingkungan yang inklusif serta bebas stigma terhadap ODHA dan OHIDA.(S-25)

BERITA TERKAIT
Iklan Homepage 2
terpopuler
mobileapps