AMBON, Siwalimanews – Sebanyak 78 orang atlet penyandang disabilitas di maluku mengikuti seleksi menjadi atlet nasional dan masuk pusat pelatihan Solo, Jawa Tengah.
Mereka terdiri dari 43 atlet tuna daksa, 32 atlet tunagrahita, 3 atlet tunanetra dan seleksi berlangsung â30 September 2025 di Gedung Sport Hall Karang Panjang, Kota Ambon.
Ketua NPC Maluku, Adyos Astan mengaku kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan NPC Indonesia dan Kejaksaan Agung.
âProgram ini akan dilaksanakan secara maraton di seluruh provinsi untuk mencari bibit atlet muda yang berpotensi berprestasi internasional,â jelasnya.
Lanjutnya, jika berpeluang, mereka akan ditempa di pusat pelatihan Solo, Jawa Tengah, yang menjadi fasilitas nasional NPC.
Ia mengaku keberhasilan pembinaan atlet disabilitas sangat bergantung pada dukungan pemeÂ-rintah daerah. Tanpa anggaran, program tidak akan berjalan.
âKami berharap pemerintah daerah bisa berkolaborasi lebih erat,â katanya.
Kesempatan yang sama, Ketua NPC Indonesia melalui Wakil Ketua I Bidang Organisasi, Rio Sureno, menegaskan pentingnya pembinaan jangka panjang dalam mencetak atlet disabilitas berprestasi dunia.
Menurutnya, syarat utama melahirkan juara dunia adalah porsi latihan minimal 12.000 jam. Atlet juara Olimpiade biasanya mencapai puncak prestasi di usia 26â29 tahun. âJika ditarik mundur, mereka sudah berlatih intensif sejak usia 10â13 tahun. Karena itu, pembinaan usia dini adalah kunci,â ujarnya.
Ia menekankan, keberhasilan pembinaan bukan hanya soal jam latihan, tetapi juga dukungan keluarga. âBanyak atlet muda berhenti setelah lulus SMA karena masa depan dianggap tidak jelas. Maka, sinergi organisasi olahraga, pemerintah, dan orangtua sangat menentukan keberlangsungan karier atlet disabilitas,â katanya.
Sementara itu, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku, Abdullah Nordeni menyampaikan pesan motivasi. Ia menyebut, penyandang disabilitas bukanlah terbatas, melainkan memiliki kekuatan unik.
âBanyak orang melihat disabilitas sebagai kekurangan. Namun bagi kami, ini adalah keistimewaan yang Tuhan berikan. Setiap manusia memiliki potensi luar biasa untuk mandiri, berprestasi, dan membanggakan bangsa,â ujarnya.
Ia mencontohkan sosok Adyos, atlet asal Maluku yang menorehÂkan prestasi nasional dan interÂ-nasional. Dari medali emas PeparÂ-nas Papua 2021 hingga tampil di semifinal Paralympic Paris 2024, Adyos dianggap sebagai bukti nyata keterbatasan dapat diubah menjadi kebanggaan bangsa.
âProgram ini bukan sekadar mencari atlet, tetapi mencari jiwa-jiwa pejuang. Anak-anak yang hadir hari ini adalah bukti nyata bahwa harapan tidak pernah padam,â jelasnya.
Sebelumnya, Ketua Panitia, Rajendra D Wiritanaya, menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan atas praÂ-karsa Jaksa Agung Muda Intelijen dengan dukungan anggaran NPC Indonesia Pusat tahun 2025.
Tujuannya menjaring atlet disabilitas tangguh dari Maluku untuk bersaing di tingkat nasional dan internasional dan meningkatkan kerja sama NPC dengan Kejaksaan Tinggi di seluruh Indonesia. (S-25)