SIWALIMA.id > Berita
BI: Pembayaran Non Tunai di Maluku Terus Tumbuh Positif
Online | Jumat, 5 Desember 2025 pukul 18:09 WIT

AMBON, Siwalima.id – Perkembangan sistem pembayaran non-tunai di Provinsi Maluku terus menunjukkan pertumbuhan signifikan sepanjang triwulan III 2025.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Maluku, Mohamad Latif menjelaskan, perekonomian Maluku edisi November 2025 mencatat, bahwa digitalisasi pembayaran semakin masif, didorong oleh pemanfaatan BI-FAST, QRIS, serta peningkatan infrastruktur pembayaran seperti BI-RTGS dan SKNBI.

“Transaksi Real-Time Gross Settlement (RTGS) di Maluku meningkat sejalan dengan naiknya aktivitas perdagangan,” tulis Latif dalam rilisnya yang diterima redaksi Siwalima.id, Jumat (5/12).

Nominal transaksi RTGS kata Latif, mencapai Rp6,67 triliun, tumbuh 19,91 persen (yoy), sementara volumenya naik 7,08 persen (yoy). Meski demikian, pertumbuhan RTGS mulai melambat, karena masyarakat beralih ke BI-FAST yang menawarkan biaya transfer lebih rendah, yakni Rp2.500 per transaksi, dengan limit hingga Rp250 juta.

Sementara Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) juga mengalami peningkatan. Nominal transaksi meningkat 15,72 persen (yoy) menjadi Rp736 miliar, sementara volumenya melonjak 62,66 persen (yoy).

“SKNBI banyak dimanfaatkan untuk kliring warkat debit dan penagihan reguler,” jelas Latif.

Menurutnya, BI-FAST tetap mencatat tren positif, meski mengalami perlambatan. Sepanjang triwulan III 2025, nominal transaksi tercatat Rp6,89 triliun atau tumbuh 5,04 persen (yoy), sementara volume mencapai 3,76 juta transaksi, tumbuh 7,05 persen (yoy).

Kenaikan ini didorong perayaan-perayaan besar di Maluku seperti HUT Kota Ambon, perayaan HUT GPM, serta kegiatan wisuda beberapa universitas.

Selain itu, QRIS menjadi kanal pembayaran paling cepat tumbuh di Maluku dimana, volume transaksi pada triwulan III 2025 mencapai 2,20 juta transaksi, melonjak 120,16 persen (yoy), sementara nominal transaksi ikut naik menjadi Rp302,66 miliar, tumbuh 76,17 persen (yoy).

 

Namun, transaksi QRIS masih terkonsentrasi di Kota Ambon, yang menguasai lebih dari 75 persen pangsa transaksi. Jumlah merchant juga didominasi Ambon dengan pangsa 50,24 persen dari total 101.783 merchant di Maluku.

“Pertumbuhan pengguna (user) QRIS mencapai 155.714 orang, tumbuh 8,81 persen (yoy), meski penambahan pengguna baru melambat hingga 64,69 persen (yoy),” urai Latif.

Untuk transaksi kartu ATM dan debit (ATMD) menurut Latif, menurun tajam. Nominal transaksi tercatat Rp12,38 triliun, terkontraksi 57 persen (yoy) sementara volume transaksi juga turun 7,95 persen (yoy).

Sebaliknya, transaksi kartu kredit meningkat. Nominal transaksi tumbuh 10,48 persen (yoy) menjadi Rp63,51 miliar, sementara volumenya naik 15,25 persen (yoy). Untuk transaksi uang elektronik (UE) memperlihatkan tren positif. 

“Nominal transaksi mencapai Rp117,78 miliar dan volume 1,43 juta transaksi, masing-masing tumbuh 16,06 persen dan 31,34 persen (yoy). Hal ini menandakan penerimaan masyarakat terhadap pembayaran digital semakin kuat,” ungkap Latif.

Bank Indonesia Provinsi Maluku terus memperluas edukasi digitalisasi sistem pembayaran, termasuk kampanye perlindungan konsumen dengan tagline PeKA: Peduli, Kenali, Adukan. Hal ini dilakukan untuk menutup kesenjangan antara literasi keuangan (40,78%) dan inklusi keuangan (78,70%).

Selain itu, BI Maluku menjalankan program inovatif Game-PUR Pasar, yaitu edukasi Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah yang dibarengi layanan penukaran uang tidak layak edar (UTLE) langsung di pasar-pasar tradisional.

"Program ini akan diperluas ke sekolah, kampung, kelurahan hingga pesantren,” tutup Latif.(S-25)

BERITA TERKAIT