AMBON, Siwalima.id - Badan Pusat Statistik mencatat sejumlah barang kebutuhan masyarakat naik jelang perayaan Idul Fitri 1447 H di Maluku.
Hal ini kemudian memicu tingginya inflasi year on year (y-on-y) di Provinsi Maluku sebesar 3,40 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,46.
Kepala BPS Maluku, Maritje Pattiwaellapia dalam rilis yang diterima Siwalima, Rabu (1/4) menjelaskan inflasi (y-on-y) tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 5,69 persen dengan IHK sebesar 112,89 dan terendah terjadi di Kota Ambon sebesar 3,19 persen dengan IHK sebesar 111,76.
Dikatakan inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga kelompok pengeluaran yaitu kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 9,55 %, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,10 %.
Selain itu juga naiknya kelompok kesehatan sebesar 5,68 %, kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,37 %, kelompok pendidikan sebesar 2,84 %, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,54 %.
“Sedangkan tingkat deflasi month to month (m-to-m) Provinsi Maluku bulan Maret 2026 sebesar 0,75 persen dan tingkat inflasi year to date (y-to-d) sebesar 0,58 persen,” jelasnya.
Secara umum, perkembangan harga berbagai komoditas pada Maret 2026 dibandingkan Maret 2025 menunjukkan tren kenaikan.
Berdasarkan hasil pemantauan BPS Maluku di 3 kabupaten/kota, pada Maret 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 3,40 persen, atau terjadi kenaikan IHK dari 107,80 pada Maret 2025 menjadi 111,46 pada Maret 2026.
“Tingkat deflasi m-to-m kita sebesar 0,75 persen dan tingkat inflasi y-to-d sebesar 0,58 persen,” paparnya.
Kemudian komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada Maret 2026, antara lain tarif listrik, emas perhiasan, bawang merah, beras, cabai rawit, sigaret kretek mesin (SKM), ikan cakalang, labu siam/jipang, cabai merah, daging ayam ras, nasi dengan lauk, tariff rumah
Ekspor Maluku Turun
BPS Maluku juga mencatat ekspor Maluku Februari 2026 mencapai US$ 5,46 juta.
Nilai ekspor Maluku Januari–Februari 2026 mencapai US$ 10,68 juta atau turun 0,70 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Seluruh nilai ekspor berasal dari komoditas nonmigas.
“Ekspor Maluku Februari 2026 mencapai US$ 5,46 juta, turun 8,74 persen dibanding ekspor Februari 2025 senilai US$ 5,98 juta,” kata Kepala BPS Maluku Maritje Pattiwaellapia dalam rilis yang diterima Siwalima, Rabu (1/4).
Ia mengaku Ekspor Januari–Februari 2026 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$ 10,11 juta, disusul Hongkong US$ 0,57 juta, dengan kontribusi keduanya mencapai 100,00 persen terhadap periode Januari–Februari 2026.
Menurut pelabuhan muat, seluruh ekspor Maluku pada Januari–Februari 2026 dilakukan melalui Pelabuhan Yos Sudarso dengan nilai US$ 10,68 juta (100,00 persen).
Adapun pada periode yang sama tahun sebelumnya, ekspor Maluku selain melalui Pelabuhan Yos Sudarso namun juga melalui Pelabuhan Tual. (S-09)