AMBON, Siwalima.id - Badan pusat statistik mencatat perkembangan harga berbagai komoditas pada November 2025 dibandingkan November 2024 menunjukkan tren kenaikan.
Hal ini kemudian memicu terjadinya inflasi year-to-date (y-to-d) sebesar 2,75 persen dan inflasi year on year (y-on-y) sebesar 2,33 persen bulan November 2025 terbesar disumbangkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,47 persen.
Selain itu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,14 persen, kelompok kesehatan sebesar 4,08 persen, kelompok pendidikan sebesar 2,57 persen, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 2,48 persen ikut menyumbang tingginya inflasi.
Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia dalam rilis yang diterima Siwalima, Senin (1/12) menjelaskan pada November 2025 terjadi inflasi year on year (y-on-y) di Provinsi Maluku sebesar 2,33 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,93.
“Inflasi (y-on-y) tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 3,53 persen dengan IHK sebesar 110,13 dan terendah terjadi di Kabupaten Maluku Tengah sebesar 1,24 persen dengan IHK sebesar 108,60,” terangnya.
Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 9 indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,47 persen, kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,14 persen, kelompok kesehatan sebesar 4,08 persen.
Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu pakaian dan alas kaki sebesar 1,17 persen dan informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,30 persen.
Lanjutnya, berdasarkan hasil pemantauan BPS Maluku di 3 kabupaten kota, pada November 2025 terjadi inflasi y-on-y sebesar 2,33 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,43 pada November 2024 menjadi 109,93 pada November 2025.
“Tingkat inflasi m-to-m sebesar 0,28 persen dan tingkat inflasi y-to-d sebesar 2,75 persen,” ungkapnya.
Sementara komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi y-on-y pada November 2025, antara lain emas perhiasan, ikan layang/mumar, beras, wortel, sigaret kretek mesin (SKM), minyak goreng, cabai rawit, bawang merah, ikan tuna/tatihu, ikan tongkol/komu.
Kemudian ada sepeda motor, kopi bubuk, biaya akademi/perguruan tinggi, mobil, telur ayam ras, bayam, kue basah, gula pasir, biskuit dan obat dengan resep.
Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan deflasi y-on-y, antara lain ikan selar/kawalinya, tomat, tarif angkutan udara, lemon, popok bayi sekali pakai/diapers, bahan bakar rumah tangga dan lainnya.
Impor dari Singapura
Badan Pusat Statistik juga mencatat Ekspor Maluku Oktober 2025 tidak melakukan ekspor, namun sebaliknya melakukan impor mencapai US$ 32,48 juta.
Kepala BPS Provinsi Maluku Maritje Pattiwaellapia dalam rilis yang diterima Siwalima, Senin (1/12) menjelaskan nilai impor Maluku Januari-Oktober 2025 mencapai US$274,55 juta atau turun 31,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejalan dengan total impor, nilai impor non migas juga turun 84,45 persen dari US$18,09 juta menjadi US$2,81 juta. Nilai impor Maluku Oktober 2025 mencapai US$21,87 juta, turun 32,11 persen dibanding kondisi Oktober 2024,” terangnya.
Menurutnya, negara pemasok barang impor Maluku selama Januari-Oktober 2025 adalah Singapura US$192,57 juta (70,14 persen), Malaysia US$79,17 juta (28,83 persen), dan Tiongkok US$2,81 juta (1,02 persen). Impor dari ASEAN US$271,74 juta (98,98 persen) dan Asia lainnya US$2,81 juta (1,02 persen).
Kemudian neraca perdagangan Maluku Januari-Oktober 2025 mengalami defisit US$241,02 juta yang berasal dari surplus sektor nonmigas US$30,72 juta, sementara sektor migas defisit senilai US$271,74 juta.
Sementara nilai ekspor Maluku Januari–Oktober 2025 mencapai US$33,53 juta atau turun 31,83 persen dibanding periode yang sama tahun 2024. Nilai ekspor nonmigas sebesar US$33,53 juta mengalami penurunan 11,60 persen.
“Ekspor Maluku Oktober 2025 tercatat nihil atau turun 100,00 persen dibanding ekspor Oktober 2024 senilai US$8,15 juta,” tandasnya.(S-09)