SIWALIMA.id > Berita
Dari Diesel ke Panas Bumi: Lompatan Bersejarah Maluku Menuju Energi Bersih
Daerah | Jumat, 17 Oktober 2025 pukul 23:00 WIT

“Kalau ada mesin pembangkit yang sudah tua, yang diesel, langsung diganti pada Energi Baru Terbarukan, ini bentuk dari concern pemerintah untuk menye­diakan EBT sebagai konsensus internasional,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, kepada wartawan, usai meninjau Unit Pelaksana Penyaluran dan Pengaturan Beban (UP3B) di Kota Ambon, Maluku, Sabtu (5/4/2025).

Di bawah permukaan tanah rem­pah-rempah yang kaya sejarah, terpendam sebuah janji masa depan bagi Maluku, potensi panas bumi yang siap menerangi jutaan asa. Ini bukan lagi sekadar waca­na, melainkan sebuah komitmen yang dimanifestasikan dalam sebuah instruksi tegas dari pusat pada lima bulan silam. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, datang ke Ambon, Provinsi Maluku, mem­bawa kabar baik bagi Maluku se­bagai pusat perhatian baru dalam peta energi nasional.

Dihadapan publik, Bahlil me­negaskan bahwa PT PLN (Persero) harus segera merealisasikan pem­bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berkapasitas 40 megawatt (MW) di Maluku. Langkah ini bukan sekadar janji manis, melainkan sebuah instruksi yang telah terpatri dalam draf Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034. Apa yang selama ini menjadi impian, kini menjadi rencana konkret yang akan segera digarap.

“Saya sudah masukan dalam RUPTL, supaya apa? tidak lagi ter­gantung pada solar dan batu bara” katanya.  Menurut Bahlil, ini bentuk nyata komitmen pemerintah pusat terhadap transisi energi.

Bagi Maluku, kehadiran PLTP ini akan menjadi sebuah transformasi besar. Ketergantungan pada ener­gi fosil yang tidak ramah ling­kungan perlahan akan terkikis, digantikan dengan sumber energi yang bersih, terbarukan, dan berkelanjutan.

Mengubah panas perut bumi menjadi listrik adalah sebuah proses yang menakjubkan. Air dan uap yang dipanaskan oleh magma di bawah permukaan disalurkan melalui pipa untuk memutar turbin, yang kemudian menghasilkan listrik. Proses ini tidak hanya efisien, tetapi juga minim emisi, sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mencapai target nol emisi karbon.

Proyek  ini akan dilakukan di loka­si strategis : PLTP Wapsalit 20 MW di Pulau Buru dan PLTP Tulehu 2×10 MW di Pulau Ambon. PLTP Wapsalit 20 MW saat ini masih dalam tahap eksplorasi oleh peng­embang swasta dan ditargetkan mulai operasi secara komersial (Commercial Operation Date/COD) pada 2028. Sementara PLTP Tulehu 2×10 MW kini dalam tahap pengadaan oleh PLN dan ditar­getkan COD pada 2031.

Terdapat pula potensi panas bumi di Banda Baru, Pulau Seram yang dapat dikembangkan menjadi PLTP 25 MW sesuai dengan hasil survei oleh Badan Geologi dan akan ditawarkan dalam market sounding oleh Ditjen EBTKE pada bulan April 2025.

Jadi Tulang Punggung

Bertahun-tahun lamanya, mesin diesel menjadi tulang punggung kelistrikan di Maluku. Mesin-mesin yang bising ini mendominasi 61% sistem kelistrikan, menghidupi rumah-rumah, sekolah, dan pusat perekonomian di pulau-pulau kecil yang tersebar.

“Kami hanya memiliki daya mam­pu 106 MW dengan beban pun­cak 57 MW, juga cadangan daya  49 MW di sistem Ambon,” be­ber General Manager PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara, Awat Tuhuloula, saat mela­porkan kondisi terkini sistem kelistrikan, di sela-sela kunjungan tersebut.

Diakui, dibalik putaran mesin­nya, tersembunyi sebuah masalah besar, biaya operasional yang membengkak, ketergantungan pada pasokan BBM yang tidak menentu, dan dampak lingkungan yang tak terhindarkan.

Sebagai wilayah kepulauan, Maluku memiliki tantangan infra­struktur yang unik. Pembangunan pembangkit dan jaringan transmisi di pulau-pulau terpencil mem­butuhkan investasi dan logistik yang tidak sedikit.

Koordinasi antara berbagai pemangku kepentingan baik peme­rintah pusat, pemerintah daerah, PLN, dan masyarakat menjadi kun­ci keberhasilan proyek ini. Duku­ngan pendanaan dan kapasitas sumber daya manusia juga men­jadi faktor krusial yang perlu dipersiapkan.

“Untuk tahap awal, biaya kegiatan hulu seperti pengeboran eksplorasi akan ditanggung oleh mitra, PLN akan menangani aspek perizinan, pengadaan lahan, serta pembangunan infrastruktur sisi hilir,” kata Tehuloula.

Energi bersih dan berkelanjutan adalah impian dari kehadiran PLTP nantinya.

“Panas bumi adalah sumber energi bersih yang tidak meng­hasilkan emisi gas karena mem­bantu mengurangi jejak karbon dan menjaga kelestarian lingku­ngan,” ujar Akademisi Unpatti, Yus Malle, kepada Siwalima, Kamis (16/10/2025).

Guru Besar di bidang Kimia Anorganik pada Fakultas Mate­matika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) ini menjelaskan, panas bumi tidak seperti energi angin atau matahari yang bergantung pada kondisi cuaca, panas bumi mena­warkan pasokan energi yang konstan dan dapat diandalkan sepanjang tahun.

“Kalau PLTP Wapsalit dan Tulehu beroperasi maka ini menjamin ketersediaan listrik yang stabil bagi masyarakat,” katanya.

Ketersediaan listrik yang andal dan terjangkau menjadi pendo­rong utama aktivitas ekonomi, baik di sektor industri, bisnis, maupun rumah tangga. Hal ini akan men­dukung percepatan pembangunan di Maluku.

“Bagaimana mungkin ada investor yang bersedia menanamkan modalnya jika kebutuhan listrik saja belum terpenuhi?,” cetus Anggota Komisi III  DPRD Maluku, Anos Yeremias.

Kehadiran PLTP akan mem­bantu mempercepat akses energi yang merata, terutama di daerah-daerah pedesaan yang sulit dijangkau. “Listrik yang stabil akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” kata Anos, politisi Partai Golkar itu.

“Potensi panas bumi juga mem­buka peluang pariwisata berbasis geothermal. Ini akan mengun­tungkan daerah,” cetusnya lagi.

Proyek PLTP di Maluku ini bukan sekadar pembangunan infra­struk­tur, melainkan tentang harapan, kemandirian, dan keseimbangan antara alam dan teknologi.

“Kami ingin Maluku tidak hanya terang, tapi juga menjadi contoh wilayah timur yang ramah ling­kungan dan berkelanjutan,” ujar Gubernur Maluku, Hendrik Lewe­rissa, kepada jajaran pejabat PLN UIW MMU saat bertandang ke kantornya, belum lama ini.

Janji Kesejahteraan

“Kalau listrik cukup, usaha kecil-kecilan kami jadi bisa maju. Tidak perlu lagi takut barang jualan rusak karena kulkas mati,” ungkap pedagang warung kelontong di Namlea, Abdul Ohorella, yang berharap stabilitas listrik akan mendongkrak perekonomiannya.

Senada Rusdy Mardin berharap ada manfaat dari proyek PLTP ini nantinya.

“Ini kan proyek besar dari pemerintah, pasti ada manfaatnya untuk kami. Kami percaya listriknya bersih dan tidak merusak alam,” katanya sembari optimistis terha­dap energi hijau.

Janji-janji pembangunan Maluku tidak hanya berinvestasi pada pasokan listrik yang lebih andal, tetapi juga berinvestasi pada masa depan yang berkelanjutan.

Harapan akan masa depan yang cerah dan berkelanjutan hanya bisa terwujud jika semua pihak bahu membahu menjaga keseim­bangan antara pembangunan dan kelestarian alam serta kesejah­teraan masyarakat. (Fabiola Jolanda Koenoe, Jurnalis Harian Pagi Siwalima)

BERITA TERKAIT
Iklan Homepage 2
terpopuler
mobileapps