AMBON, Siwalimanews – Operasional Bank MaluÂku-Malut saat ini, hanya dijalankan oleh 2 diÂreksi dan 1 komisaris.
Dua direksi yang masih bertahan di Bank Maluku Malut yakni Direktur Utama yang dijabat Syahrisal Imbar dan Abidin sebagai DiÂrektur Kepatuhan, seÂdangÂkan di jajaran komiÂsaris hanya tersisa Najib Bachmid yang sudah menÂjabat Komisaris Utama selama 10 tahun.
Melihat kondisi bank milik pemerintah daerah seperti ini, akademisi berharap agar kekesongan ini seÂgera diisi, sebab jika tidak akan berdampak pada operasional bank.
Sebelumnya tercatat, ada 4 direksi dan 4 komisaris yang menjalankan operasional bank milik pemerintah daerah itu, namun dua direksi dan 3 komiÂsaris lain sudah tidak lagi bertugas, lantaran masa jabatannya telah berakhir.
Untuk mengisi kekosongan jabatan di jajaran direksi maupun komisaris, seluruh pemegang saham sudah bersepakat untuk mengangkat 4 orang dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, yang dilaksanakan di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, Jumat (21/3) lalu.
Keempat calon pejabat baru tersebut terdiri dari, dua direksi yakni direktur umum dijabat Ingrid Maureen Sahusilawane dan FerdiÂnand Alexander Hitipeuw sebagai direktur pemasaran, sedangkan dua lainnya masing-masing IchÂwan sebagai komisaris indepenÂden dan Maichel Papilaya sebagai komisaris.
Kondisi kekosongan jabatan direksi dan komisaris di Bank Maluku-Malut saat ini tentu menyita perhatian publik.
Akademisi Fisip Unpatti, Jeffry Leiwakabessy menjelaskan, keÂberÂlangsungan sebuah organisasi termasuk lembaga perbankan akan ditentukan oleh sosok pimÂpinan. Dalam konteks lembaga perÂbankan, tidak boleh terjadi kekosongan pada jabatan-jabatan yang ada sebab akan berdampak terhadap operasional dari bank tersebut.
âKekosongan jabatan dalam lemÂbaga perbankan termasuk di Bank Maluku Malut, tentu akan berÂdampak pada operasional, sebab masing-masing jabatan itu memiÂliki tugas dan fungsi penting,â ujar LeiwaÂkabessy kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Rabu (10/9).
Menurutnya, pemegang saham tidak boleh membiarkan jabatan-jabatan di Bank Maluku-Malut kosong dalam jangka waktu yang lama, sebab bisa saja berdamÂpak pada kesehatan bank.
Kekosongan itu, tentu akan ditutup oleh direksi atau komisaris yang ada, tetapi hal tersebut tidak akan efektif, mengingat tugas-tugas pengawasan oleh komisaris maupun operasional oleh direksi tidak mudah.
âKalau kita baca literatur ilmu ekonomi tentu kosongan jabatan direksi atau komisaris itu akan berÂdampak pada tingkat kesehatan bank. Coba bayangkan direksi yang ada harus mendrive tugas direksi yang kosong, itu akan nanti tidak efektif,â ucap Leiwakabessy.
Untuk itu, Leiwakabessy minta, Gubernur Maluku sebagai pemeÂgang saham pengendali untuk segera menghelat RUPS luar biasa, guna mengisi jabatan yang kosong.
Sementara itu akademisi Fisip UKIM Amelia Tahitu menganggap, kekosongan jabatan baik direksi dan komisaris di Bank Maluku-Malut dapat menggangu kinerja bank.
Menurutnya, kesehatan perbanÂkan juga sangat ditentukan oleh terisinya jabatan-jabatan, baik direksi dan komisaris termasuk di Bank Maluku-Malut.
âDalam organisasi kalau ada jabatan yang kosong pasti tidak ada efektif kerja-kerjanya dan pada akhirnya berdampak pada kinerja dari organisasi itu. Hal ini juga berÂlaku di Bank Maluku-Malut,â jelas Tahitu kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Rabu (10/9).
Tahitu menegaskan, pemegang saham Bank Maluku-Malut harus melihat persoalan kekosongan jabatan direksi dan komisaris ini sebagai masalah serius.
Pasalnya, jika kekosongan jabatan direksi dan komisaris tidak dikelola dengan baik, maka dipastikan kinerja Bank Maluku-Malut akan terganggu.
âDengan kondisi ini kita mintai pemegang saham untuk segera mengisi jabatan yang kosong agar terisi dan tidak menggangu kinerja keuangan Bank Maluku-Malut,â tegas Tahitu.(S-20)