SIWALIMA.id > Berita
Kebijakan Pemerintah Harus Menjamin Hak Masyarakat
Daerah | Selasa, 2 Juni 2026 pukul 14:34 WIT

AMBON, Siwalima.id - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi mengingatkan seluruh kepala dae­rah agar menjamin hak-hak masya­rakat kecil dalam setiap kebijakan.

Penegasan ini disampaikan Wah­yudi dalam sambutannya yang di­bacakan Sekretaris Daerah Maluku Sadli Ie saat memimpin upacara Pe­ri­ngatan Hari Lahir Pancasila di ha­laman kantor gubernur, Senin (1/6).

Peringatan ini, katanya bukan sekadar seremoni tahunan, melain­kan momentum refleksi untuk memastikan nilai-nilai pancasila tetap hidup dan menyala dalam setiap jiwa warga negara.

Dirinya menyebut, di tengah ketidakpastian global dan ancaman fragmentasi, Pancasila tetap menjadi bintang penuntun yang menjaga Indonesia tetap kokoh sebagai bangsa yang majemuk.

“Dengan lebih dari 17 ribu pulau dan ratusan kelompok etnis, Indonesia mampu membuktikan bahwa keberagaman dapat bersatu dalam satu identitas kebangsaan,” katanya.

Disamping Pancasila selain seba­gai perekat perdamaian namun Pancasila juga dinilai sebagai jangkar moral dalam menghadapi berbagai tantangan dunia, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik.

“Perdamaian bukan sekadar tidak adanya perang, tetapi hadirnya keadilan bagi seluruh umat manu­sia,” tegas Wahyudi.

Jadikan Pancasila Ideologi Hidup

Sementara itu, peringatan Hari Lahir Pancasila juga diperingati Pemerintah Kota Ambon di halaman Balai Kota.

Walikota Ambon, Bodewin Watti­mena, bertindak sebagai inspektur upacara yang membacakan pidato Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi mengatakan peringatan ini sekadar seremoni tahunan.

“Ini momentum refleksi untuk memastikan nilai-nilai Pancasila terus hidup dalam kehidupan ber­bangsa dan bernegara,” terangnya.

Disebutkan, Pancasila telah ter­bukti menjadi “bintang penuntun” bangsa Indonesia dalam meng­hadapi berbagai tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik dunia.

Pancasila disebut menjadi fondasi kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas aktif, sekaligus menjadi landasan diplomasi melalui nilai musyawarah dan mufakat dalam menjembatani berbagai perbedaan serta penyelesaian konflik.

Kepada para menteri dan kepala daerah, Kepala BPIP juga menitipkan amanat agar setiap kebijakan publik berlandaskan keadilan sosial, menja­min hak masyarakat kecil, serta tidak membiarkan ada warga yang merasa ditinggalkan.

“Kita harus terus melawan segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang dapat merusak harmonisasi kebangsaan kita,” tegasnya.

Api Pancasila Tetap Menyala

Sementara itu Bupati Maluku Barat Daya benyamin Thomas Noach yang membacakan sambutan Kepala BPIP Yudian Wahyudi me­ngatakan 1 Juni kita kembali berdiri di atas tanah pusaka untuk mem­peringati Hari Lahir Pancasila.

Dikatakan Pancasila adalah “jang­kar moral” dalam menghadapi turbu­lensi global, mulai dari disrupsi tek­nologi hingga dinamika geopolitik.

Menurutnya, indonesia bukan ha­nya penonton dalam kancah dunia. Sesuai amanat Pembukaan UUD 1945, kita memiliki tanggung jawab konstitusional untuk ikut melak­sanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perda­maian abadi dan keadilan sosial.

“Pancasila adalah fondasi dari kebijakan luar negeri kita yang bebas aktif. Nilai musyawarah dan mufakat yang kita anut adalah instru­men diplomasi yang sangat dibu­tuh­kan dunia saat ini untuk menjem­batani perbedaan dan menghentikan konflik,” tegasnya.

Indonesia Raya bukanlah mimpi kosong. Namun, kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa arah moral bisa menyesatkan.

“Saya mengajak seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda sebagai penjaga masa depan, untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup. Jangan biarkan nilai-nilai luhur ini hanya menjadi hiasan di dinding,” tegasnya.   

Di tempat berbeda, peringatan Hari Lahir Pancasila juga dilaksana­kan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Kabupaten Maluku Tengah.

Ketua DPC PDI Perjuangan Mal­teng Zeth Latukarlutu mengatakan Pancasila merupakan dasar negara sekaligus pedoman hidup bangsa Indonesia yang harus terus dijaga dan diamalkan di tengah berbagai tantangan zaman.

Menurutnya, Indonesia telah mem­buktikan ketangguhannya meng­hadapi berbagai ancaman dan keti­dak­pastian global dengan tetap berdiri kokoh sebagai bangsa yang mampu menjaga persatuan dalam kebera­gaman. 

“Indonesia tetap berdiri ko­koh seba­gai contoh nyata bagai­mana keberagaman yang terdiri dari ribuan pulau dan ratusan etnis dapat disatukan dalam satu ikatan keba­ngsaan. Pancasila adalah jangkar moral bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika politik dunia,” kata Zeth.

Selain itu, Pancasila sebagai bin­tang penuntun bangsa telah men­dapat pengakuan dunia internasio­nal setelah pidato Bung Karno ten­tang lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945 di hadapan sidang BPUPKI diakui UNESCO dan ditetapkan sebagai Memory of the World.

“Telah terbukti, Pancasila sebagai bintang penuntun adalah dengan diakuinya pidato Bung Karno ta­nggal 1 Juni 1945 di hadapan sidang BPUPKI oleh UNESCO dan dite­tapkan menjadi Memory of the World,” tegasnya.

Peringatan Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni menjadi momentum untuk menge­nang lahirnya dasar negara yang digagas Proklamator RI, Soekarno sekaligus memperkuat komitmen kebangsaan dalam menjaga keutu­han NKRI.(S-20/S-30/S-28/S-17)

BERITA TERKAIT
Iklan Homepage 2
terpopuler
mobileapps