SIWALIMA.id > Berita
Pemkot Dorong Smart City dan Pelayanan Berbasis Data
Pemerintah Kota Ambon , Suplemen | Senin, 22 Juni 2026 pukul 14:46 WIT

TINGGINYA laju urbanisasi men­jadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Kota Ambon sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan pelayanan publik di Provinsi Maluku.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Per­sandian Kota Ambon, Ronald Lek­ransy, saat menjadi narasumber da­lam Diskusi Panel bertema “Birokrasi dan Kebijakan Publik Berbasis Kepulauan” yang diselenggarakan Laboratorium Jurusan Ilmu Admi­nistrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pattimura, Kamis (18/6).

Menurut Lekransy, posisi Ambon sebagai ibu kota provinsi menjadi­kannya tujuan utama perpindahan penduduk dari berbagai daerah di Maluku. Kondisi tersebut berdam­pak pada meningkatnya kebutuhan pelayanan dasar dan berbagai tanta­ngan pembangunan perkotaan.

“Sebagai ibu kota provinsi, Ambon menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan pela­yanan publik. Kondisi ini menye­babkan tingkat urbanisasi cukup tinggi dan berdampak pada mening­katnya kebutuhan layanan dasar serta berbagai tantangan pemba­ngu­nan perkotaan,” ujar Lekransy.

Ia menjelaskan, jumlah penduduk Kota Ambon saat ini mencapai se­kitar 360.919 jiwa dengan pertum­buhan rata-rata 5,6 persen per tahun. Pertumbuhan tersebut memberikan tekanan terhadap berbagai sektor pelayanan publik.

Salah satu dampak yang paling dirasakan adalah meningkatnya kebutuhan infrastruktur dasar, seperti air bersih, listrik, drainase, jalan, hingga pengelolaan sampah. Saat ini produksi sampah Kota Ambon mencapai sekitar 256,41 ton per hari, sementara kapasitas penanga­nannya baru sekitar 185,5 ton per hari.

“Jika urbanisasi terus meningkat tanpa pengelolaan yang baik, volume sampah diperkirakan bisa men­capai 300 hingga 400 ton per hari,” katanya.

Selain itu, urbanisasi juga memicu meningkatnya kepadatan permuki­man yang berpotensi menimbulkan kawasan kumuh dan penyimpangan tata ruang. Di sektor kesehatan, pertumbuhan penduduk berdampak pada meningkatnya antrean layanan, kebutuhan tenaga kesehatan, serta fasilitas kesehatan yang lebih me­madai.

Kondisi serupa juga terjadi di sektor pendidikan, di mana pertum­buhan jumlah penduduk mening­katkan kebutuhan ruang kelas, tenaga pendidik, dan sarana pendi­dikan lainnya

Lekransy menambahkan, urbani­sasi turut berpotensi meningkatkan angka pengangguran perkotaan dan memperbesar sektor informal yang belum tertata dengan baik. Kema­cetan lalu lintas juga mulai dirasakan masyarakat akibat meningkatnya jumlah kendaraan dan aktivitas per­kotaan, yang berdampak pada emisi karbon dan kualitas lingkungan.

Tantangan lain yang dihadapi pemerintah adalah administrasi kependudukan. Tingginya mobilitas penduduk sering menyebabkan data kependudukan menjadi tidak akurat sehingga menyulitkan perencanaan pelayanan publik.

“Perubahan jumlah penduduk yang sangat dinamis membuat pe­merintah harus memiliki sistem data yang kuat agar kebijakan yang di­ambil benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Meski demikian, Lekransy mene­gaskan urbanisasi tidak boleh dipandang sebagai ancaman semata, melainkan peluang yang harus dike­lola dengan baik untuk mendorong pertumbuhan dan kemajuan kota.

Untuk menjawab tantangan terse­but, Pemerintah Kota Ambon terus mendorong penguatan sistem pela­yanan berbasis data, pengemba­ngan konsep Smart City, pemba­ngunan kawasan pertumbuhan baru, serta modernisasi transportasi perko­taan melalui penataan angkutan umum, pengaturan parkir, dan pe­manfaatan teknologi pengendalian lalu lintas.

Pemkot juga memprioritaskan penguatan sektor pendidikan dan kesehatan, penataan permukiman dan tata ruang berkelanjutan, pe­nge­lolaan sampah modern, pengem­bangan ruang terbuka publik, serta berbagai langkah adaptasi terhadap perubahan iklim.

“Pemerintah juga perlu memper­kuat pemberdayaan ekonomi mas­yarakat dan ketenagakerjaan agar urbanisasi dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahte­raan masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan, keberhasilan pengelolaan urbanisasi membu­tuhkan kolaborasi antara pemerin­tah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat. Dengan kebijakan pub­lik yang berbasis data dan sesuai karakteristik wilayah kepulauan, Ambon diharapkan mampu menja­wab tantangan perkotaan sekaligus memanfaatkan peluang pembangu­nan yang ada.

“Urbanisasi adalah realitas yang tidak bisa dihindari. Yang terpenting adalah bagaimana pemerintah mam­pu mengelolanya melalui kebijakan yang tepat, inklusif, dan berke­lanjutan demi masa depan Kota Ambon yang lebih baik,” tandas Lekransy.(S-30)

BERITA TERKAIT