AMBON, Siwalimanews –Â Ratusan peserta yang terdiri dari akademisi, peneliti, penyuluh dan praktisi pertanian dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia meÂngikuti seminar nasional Penyuluh Pertanian yang berlangsung di Universitas Pattimura, Sabtu (18/10).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Unpatti beÂkerja sama dengan Asosiasi Profesi Penyuluhan Pertanian dan KomuÂnikasi Pembangunan Indonesia (APP-KPMI).
Acara dimulai dengan field trip ke desa wisata di Negeri Rutong, keÂmudian dilanjutkan dengan saraseÂhan dan puncak kegiatan berupa seminar nasional yang diisi berbagai narasumber, antara lain Kepala Bappenas, Ketua APP-KPMI, perÂwaÂkilan Kementerian Pertanian, dan Pemerintah Provinsi Maluku.
Wakil Rektor Bidang Akademik Unpatti D Malle dalam sambutanÂnya menyoroti persoalan serius terkait ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
Menurutnya, Indonesia saat ini masih berada pada tahap ketahaÂnan pangan, belum mencapai kedaulatan pangan yang sejati.
âMengatasi persoalan kebutuhan pangan baik pada tingkat lokal maupun nasional, kita berada pada tahap ketahanan, belum pada tahap kedaulatan. Ini kondisi yang memang berat,â ungkapnya.
Dikatakan, definisi pangan di Indonesia terlalu berfokus pada beras, padahal daerah-daerah seperti Maluku memiliki potensi dan kearifan lokal yang kaya.
âBagi Maluku, masyarakat memiliki sistem sendiri untuk menghadapi kerawanan pangan. Misalnya, di MBD mereka memanfaatkan sukun pada musim tertentu, dibakar, dijemur, lalu disimpan untuk masa paceklik. Biji mangga pun diolah menjadi bahan pangan,â jelasnya.
Ia menilai bahwa perubahan pola makan dari pangan lokal ke beras telah menimbulkan ketergantungan dan kerentanan pangan.
âSekarang generasi milenial bergantung pada beras. Kalau kita tawarkan sagu Maluku atau singkong rebus, banyak yang tidak mau. Padahal ini ancaman, karena ketergantungan terhadap beras dan tepung terigu akan terus ada,â katanya.
Untuk itu, pentingnya peningÂkatan kualitas sumber daya manuÂ-sia, terutama penyuluh pertanian, agar dapat memanfaatkan potensi lokal secara optimal.
âSebagian besar penyuluh saat ini hanya tamatan SMA. Minimal harus sarjana, bahkan sampai tingkat magister. Karena itu, kami merekomendasikan agar Unpatti membuka Program Studi Magister Penyuluhan Pertanian atau Pemberdayaan Masyarakat,â ujarnya.
Sementara itu Ketua APP-KPMI, Hery Bachrizal Tanjung mengaku pihaknya memiliki sekitar 50 anggota asosiasi dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia, mulai dari jenjang S1, S2, hingga S3.
âKami berterima kasih kepada Unpatti yang telah menjadi host kegiatan ini. Kami berharap Unpatti tidak hanya membuka program magister, tetapi juga ke depan dapat membuka program doktor penyuluhan pembangunan atau pemberdayaan masyarakat,â ujarnya.
Menurut Hery, penyuluhan pertanian memiliki peran penting dalam pembangunan nasional, terutama dalam mendukung kebijakan pemerintah terkait peningkatan ketahanan pangan berkelanjutan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
âPenyuluh itu bukan hanya pelancar, tapi justru pelaku utama dalam mendorong ketahanan pangan nasional. Karena itu, kegiatan ini menjadi sarana komunikasi dan distribusi pengetahuan antarpenyuluh di seluruh Indonesia,â jelasnya.
Ia berharap melalui kegiatan ini, para akademisi dan praktisi dapat menemukan model dan praktik terbaik dalam penyuluhan dan pembangunan pertanian, sehingga penyuluh dapat lebih berkonÂtribusi secara konkret di lapangan.
Sebelumnya, Ketua Panitia, Jeter D Siwalette, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Unpatti sebagai pelaksana kegiatan nasional tahun ini.
âJurusan Sosial Ekonomi Pertanian Unpatti tahun 2025 ini dipercayakan oleh pengurus asosiasi pusat untuk melaksanakan kegiatan ini. Terima kasih kepada Ketua Asosiasi, Sekretariat, dan semua pihak yang telah mendukung,â ujarnya.
Ia menjelaskan seminar ini ditetapkan berdasarkan hasil komunikasi antara Unpatti, APP-KPMI dan Bappenas, serta melibatkan mitra akademik dan praktisi di bidang penyuluhan, ketahanan pangan, dan pembangunan masyarakat.
âTujuan kegiatan ini adalah menjadi wadah ilmiah bagi akademisi, peneliti, penyuluh, dan praktisi dalam menjaga pembanguÂnan berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional,â jelasnya.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung keberhasilan kegiatan tersebut.
âTerima kasih kepada seluruh narasumber, moderator dari Yogyakarta, dan para peserta. Semoga hasil dari seminar ini dapat menjadi rekomendasi kebijakan dan memperkuat sistem penyuluhan pertanian di Indonesia, khususnya di kawasan timur,â tutupnya. (S-25)