SIWALIMA.id > Berita
Setelah Malam tak Lagi Gelap, Kisah Listrik 24 Jam yang Menerangi Asa di Tahalupu
Ekonomi | Senin, 20 Oktober 2025 pukul 22:36 WIT

MATA ibu Rusna tak lagi lelah menahan perih akibat cahaya pelita. Kini,  di bawah lampu pijar yang terang, jari jemarinya lincah menggerakan mesin jahitnya hingga larut. Di Desa Tahalupu, Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, kegelapan malam bukan lagi batas, melainkan awal dari harapan yang baru.

Selama puluhan tahun, senja di Desa Talahupu, pertanda berakhir­nya aktivitas. Warga desa tahu, be­gitu malam tiba, jam kehidupan se­olah terhenti. Namun, di bulan September 2025, sebuah perubahan da­tang. Lampu-lampu jalan menyala te­rang tanpa henti, dan dari balik jendela-jendela rumah, cahaya listrik 24 jam kini menerangi lebih dari se­kadar ruangan, cahaya itu mene­rangi asa.

“Saya hanya bisa bersyukur ka­re­­na kami sudah bisa menikmati lis­trik selama 24 jam,” ujar  Rusna, pe­rem­­puan paruh baya itu.

Sebulan lalu, kata-kata itulah yang diucapkan ibu dua anak itu kepada Si­wa­­lima, saat menemuinya, di ru­mah­­­nya, di  Desa Tahalupu.

Rusna, janda yang ditinggalkan sua­minya karena meninggal itu, me­ru­pakan salah satu pelanggan PLN di Desa Tahalupu, yang selama ini hanya menikmati listrik 12 jam.

Sehari-hari Rusna, 52 tahun, hi­dup dari hasil menjahit pakaian. Pesanan dari para pelanggannya, digunakan un­­tuk menafkahi anak-anaknya yang masih duduk di bangku se­ko­lah dasar dan menengah pertama. Na­mun apa daya, akibat listrik yang hanya menyala 12 jam membuat Rusna hanya bisa menyelesaikan satu pesanan dalam kurun waktu tiga hingga empat hari. Itupun kalau tidak ada pemadaman listrik akibat gangguan yang datang tak menentu.

Sampai suatu ketika, Rusna ber­sa­ma warga setempat dikabarkan oleh kepala desa bahwa Desa Taha­lu­pu akan  ada peningkatkan jam nya­la listrik dari 12 jam menjadi 24 jam.

“Kami merasa senang mendengar ka­bar itu,” kata Rusna dengan ter­haru.

Kini dalam seminggu, Rusna su­dah bisa menyelesaikan jahitan se­banyak tiga lembar.

“Kalau siang saya sibuk, jahitan bisa dilanjutkan pada malam hari,” te­rang Rusna. “Saya juga bisa me­ne­­­rima pesanan jahitan yang ba­nyak,” kata Rusna sembari berharap peningkatan jam nyala ini bisa mem­bawa rejeki kepada dirinya.

Kegembiraan itu juga dirasakan oleh anak-anak Rusna. Nazir, siswa ke­las 4 SDN 1 Tahalupu itu, sudah bisa belajar hingga malam hari.

Lilin ataupun pelita tak lagi me­ne­mani Nazir saat harus menyelesaikan tugas pelajarannya.

“Setelah ada listrik 24 jam, saya bisa belajar hingga malam hari,” ujar Nazir, dengan hati senang.

Pak Dahyat, seorang nelayan di Desa Tahalupu,  kini bisa mendinginkan hasil tangkapannya berkat listrik yang menyala 24 jam. “Dulu, kami harus menjual ikan cepat karena takut busuk. Sekarang, kami bisa menyimpannya lebih lama, harganya juga lebih baik,” katanya, dengan senyum lebar.

Terang tanpa Henti

Desa Tahalupu adalah satu dari enam desa yang listriknya resmi ditingkatkan jam nyalanya dari 12 jam menjadi 24 jam. Lima desa lainnya yakni Desa Waepandan, Kecamatan Kepala Madan, Kabupaten Buru Selatan; Desa Amar Sakaru, Kecamatan Pulau Gorom, Kabupaten Seram Bagian Timur; Desa Jerol, Kecamatan Aru Selatan, Kabupaten Kepulauan Aru serta Desa Tonu Jaya,. Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat.

“Pelanggan Hebat, Energi Bersahabat,” demikian tema HPN tahun 2025, yang diucapkan  General Manager PLN UIW Maluku dan Maluku Utara, Noer Soeratmoko, saat peluncuran peningkatan jam nyala 24 jam serta program bantuan listrik gratis dalam acara Hari Pelanggan Nasional 2025, di Pattimura Park Ambon, Sabtu (20/9).

Bagi warga Maluku, kalimat ini bukan hanya slogan, melainkan sebuah realitas baru yang merangkul kehidupan mereka.

Tema HPN tahun 2025 ini menjadi pengingat, bahwa keberadaan PLN tidak akan berarti tanpa pelanggan setia yang setiap hari mempercayakan kebutuhan energinya kepada PLN.

“Momentum ini merupakan bukti nyata kerja keras kita bersama,” kata Soeratmoko. Ia membeberkan, hingga Agustus 2025, PLN UIW Maluku dan Maluku Utara telah mengoperasikan 56 sistem kelistrikan selama 24 jam.

“Total PLTD yang beroperasi selama 24 jam menjadi 56 PLTD, beroperasi 12 jam sebanyak 34 PLTD, dan yang masih beroperasi 6 jam sisa 9 PLTD,” sebutnya.

Bagi Soeratmoko, perubahan ini adalah cerminan dari komitmen PLN untuk tidak hanya menyediakan energi, tetapi juga memajukan kesejahteraan masyarakat.

Kisah ini tak berhenti di sana. Sejak tahun 2021 hingga 2025, PLN telah menyentuh 1.780 keluarga prasejahtera di Maluku melalui program Light Up The Dream (LUTD). Program ini, didanai oleh sumbangan para insan PLN, memungkinkan keluarga-keluarga yang kurang mampu menikmati sambungan listrik gratis. Hingga September 2025, 195 keluarga baru telah merasakan manfaatnya.

“Ini adalah bukti nyata bahwa PLN bukan sekadar penyedia layanan, tetapi juga pembawa harapan,” kata Soeratmoko lagi.

Lebih dari

Sekedar Terang

Peluncuran listrik 24 jam di lima desa ini merupakan bagian dari komitmen PLN dan Pemerintah Provinsi Maluku untuk menghadirkan layanan kelistrikan yang andal, khusus di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Dengan menyalakan cahaya di desa-desa yang terpencil, Maluku membuktikan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berpusat di kota.

“Apresiasi saya berikan bukan hanya kepada PLN, tetapi juga kepada pelanggan PLN di Maluku atas kepercayaan mereka menggunakan layanan dan produk PLN,” ujar Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, dalam sambutannya, saat peluncuran peningkatan jam nyala Listrik 24 jam. Menurut gubernur, apa yang telah dilakukan PLN atas dedikasi menghadirkan energi listrik hingga pelosok Maluku, bukan sekadar penerangan, melainkan motor penggerak perekonomian dan pembangunan daerah.

“Kehadiran listrik 24 jam di desa-desa pelosok diharapkan mampu mendorong aktivitas masyarakat, membuka peluang usaha, serta meningkatkan kesejahteraan,” pinta Lewerissa.

Kisah listrik 24 jam di Maluku adalah cerita tentang harapan, ketangguhan, dan keadilan. Ini menjadi pengingat bahwa di balik kegelapan yang panjang, selalu ada perjuangan yang gigih untuk membawa terang. Malam di Maluku kini tak lagi pekat. Di bawah sorot lampu yang stabil, ribuan mimpi baru sedang dirajut, siap untuk mewujudkan masa depan yang lebih cerah. (Fabiola Jolanda Koenoe-Jurnalis Harian Pagi Siwalima)

BERITA TERKAIT