MATA ibu Rusna tak lagi lelah menahan perih akibat cahaya pelita. Kini, di bawah lampu pijar yang terang, jari jemarinya lincah menggerakan mesin jahitnya hingga larut. Di Desa Tahalupu, Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, kegelapan malam bukan lagi batas, melainkan awal dari harapan yang baru.
Selama puluhan tahun, senja di Desa Talahupu, pertanda berakhirÂnya aktivitas. Warga desa tahu, beÂgitu malam tiba, jam kehidupan seÂolah terhenti. Namun, di bulan September 2025, sebuah perubahan daÂtang. Lampu-lampu jalan menyala teÂrang tanpa henti, dan dari balik jendela-jendela rumah, cahaya listrik 24 jam kini menerangi lebih dari seÂkadar ruangan, cahaya itu meneÂrangi asa.
âSaya hanya bisa bersyukur kaÂreÂÂna kami sudah bisa menikmati lisÂtrik selama 24 jam,â ujar Rusna, peÂremÂÂpuan paruh baya itu.
Sebulan lalu, kata-kata itulah yang diucapkan ibu dua anak itu kepada SiÂwaÂÂlima, saat menemuinya, di ruÂmahÂÂÂnya, di Desa Tahalupu.
Rusna, janda yang ditinggalkan suaÂminya karena meninggal itu, meÂruÂpakan salah satu pelanggan PLN di Desa Tahalupu, yang selama ini hanya menikmati listrik 12 jam.
Sehari-hari Rusna, 52 tahun, hiÂdup dari hasil menjahit pakaian. Pesanan dari para pelanggannya, digunakan unÂÂtuk menafkahi anak-anaknya yang masih duduk di bangku seÂkoÂlah dasar dan menengah pertama. NaÂmun apa daya, akibat listrik yang hanya menyala 12 jam membuat Rusna hanya bisa menyelesaikan satu pesanan dalam kurun waktu tiga hingga empat hari. Itupun kalau tidak ada pemadaman listrik akibat gangguan yang datang tak menentu.
Sampai suatu ketika, Rusna berÂsaÂma warga setempat dikabarkan oleh kepala desa bahwa Desa TahaÂluÂpu akan ada peningkatkan jam nyaÂla listrik dari 12 jam menjadi 24 jam.
âKami merasa senang mendengar kaÂbar itu,â kata Rusna dengan terÂharu.
Kini dalam seminggu, Rusna suÂdah bisa menyelesaikan jahitan seÂbanyak tiga lembar.
âKalau siang saya sibuk, jahitan bisa dilanjutkan pada malam hari,â teÂrang Rusna. âSaya juga bisa meÂneÂÂÂrima pesanan jahitan yang baÂnyak,â kata Rusna sembari berharap peningkatan jam nyala ini bisa memÂbawa rejeki kepada dirinya.
Kegembiraan itu juga dirasakan oleh anak-anak Rusna. Nazir, siswa keÂlas 4 SDN 1 Tahalupu itu, sudah bisa belajar hingga malam hari.
Lilin ataupun pelita tak lagi meÂneÂmani Nazir saat harus menyelesaikan tugas pelajarannya.
âSetelah ada listrik 24 jam, saya bisa belajar hingga malam hari,â ujar Nazir, dengan hati senang.
Pak Dahyat, seorang nelayan di Desa Tahalupu, kini bisa mendinginkan hasil tangkapannya berkat listrik yang menyala 24 jam. âDulu, kami harus menjual ikan cepat karena takut busuk. Sekarang, kami bisa menyimpannya lebih lama, harganya juga lebih baik,â katanya, dengan senyum lebar.
Terang tanpa Henti
Desa Tahalupu adalah satu dari enam desa yang listriknya resmi ditingkatkan jam nyalanya dari 12 jam menjadi 24 jam. Lima desa lainnya yakni Desa Waepandan, Kecamatan Kepala Madan, Kabupaten Buru Selatan; Desa Amar Sakaru, Kecamatan Pulau Gorom, Kabupaten Seram Bagian Timur; Desa Jerol, Kecamatan Aru Selatan, Kabupaten Kepulauan Aru serta Desa Tonu Jaya,. Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat.
“Pelanggan Hebat, Energi Bersahabat,” demikian tema HPN tahun 2025, yang diucapkan General Manager PLN UIW Maluku dan Maluku Utara, Noer Soeratmoko, saat peluncuran peningkatan jam nyala 24 jam serta program bantuan listrik gratis dalam acara Hari Pelanggan Nasional 2025, di Pattimura Park Ambon, Sabtu (20/9).
Bagi warga Maluku, kalimat ini bukan hanya slogan, melainkan sebuah realitas baru yang merangkul kehidupan mereka.
Tema HPN tahun 2025 ini menjadi pengingat, bahwa keberadaan PLN tidak akan berarti tanpa pelanggan setia yang setiap hari mempercayakan kebutuhan energinya kepada PLN.
âMomentum ini merupakan bukti nyata kerja keras kita bersama,â kata Soeratmoko. Ia membeberkan, hingga Agustus 2025, PLN UIW Maluku dan Maluku Utara telah mengoperasikan 56 sistem kelistrikan selama 24 jam.
âTotal PLTD yang beroperasi selama 24 jam menjadi 56 PLTD, beroperasi 12 jam sebanyak 34 PLTD, dan yang masih beroperasi 6 jam sisa 9 PLTD,â sebutnya.
Bagi Soeratmoko, perubahan ini adalah cerminan dari komitmen PLN untuk tidak hanya menyediakan energi, tetapi juga memajukan kesejahteraan masyarakat.
Kisah ini tak berhenti di sana. Sejak tahun 2021 hingga 2025, PLN telah menyentuh 1.780 keluarga prasejahtera di Maluku melalui program Light Up The Dream (LUTD). Program ini, didanai oleh sumbangan para insan PLN, memungkinkan keluarga-keluarga yang kurang mampu menikmati sambungan listrik gratis. Hingga September 2025, 195 keluarga baru telah merasakan manfaatnya.
âIni adalah bukti nyata bahwa PLN bukan sekadar penyedia layanan, tetapi juga pembawa harapan,â kata Soeratmoko lagi.
Lebih dari
Sekedar Terang
Peluncuran listrik 24 jam di lima desa ini merupakan bagian dari komitmen PLN dan Pemerintah Provinsi Maluku untuk menghadirkan layanan kelistrikan yang andal, khusus di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Dengan menyalakan cahaya di desa-desa yang terpencil, Maluku membuktikan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berpusat di kota.
âApresiasi saya berikan bukan hanya kepada PLN, tetapi juga kepada pelanggan PLN di Maluku atas kepercayaan mereka menggunakan layanan dan produk PLN,â ujar Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, dalam sambutannya, saat peluncuran peningkatan jam nyala Listrik 24 jam. Menurut gubernur, apa yang telah dilakukan PLN atas dedikasi menghadirkan energi listrik hingga pelosok Maluku, bukan sekadar penerangan, melainkan motor penggerak perekonomian dan pembangunan daerah.
âKehadiran listrik 24 jam di desa-desa pelosok diharapkan mampu mendorong aktivitas masyarakat, membuka peluang usaha, serta meningkatkan kesejahteraan,â pinta Lewerissa.
Kisah listrik 24 jam di Maluku adalah cerita tentang harapan, ketangguhan, dan keadilan. Ini menjadi pengingat bahwa di balik kegelapan yang panjang, selalu ada perjuangan yang gigih untuk membawa terang. Malam di Maluku kini tak lagi pekat. Di bawah sorot lampu yang stabil, ribuan mimpi baru sedang dirajut, siap untuk mewujudkan masa depan yang lebih cerah. (Fabiola Jolanda Koenoe-Jurnalis Harian Pagi Siwalima)