SIWALIMA.id > Berita
Wabup Tegaskan Pondasi Perdamaian Dunia di Harlah Pancasila 2026
Kepulauan Tanimbar Membangun , Suplemen | Senin, 8 Juni 2026 pukul 14:11 WIT

PEMERINTAH Kabu­paten Kepulauan Tanimbar meng­gelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 dengan penuh khidmat di Lapangan Upacara Kan­tor Bupati,  Senin (1/6).

Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar Juliana Ch Ratuanak, membacakan Pidato Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Re­publik Indonesia, Yudian Wahyudi. 

Upacara ini menjadi momentum refleksi seluruh ASN, Forkopimda, Tokoh Agama, dan masyarakat Ta­nimbar untuk meneguhkan kembali nilai-nilai dasar negara.

Dalam pidato yang dibacakan, Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar, Juliana Ch. Ratuanak mengawali dengan penegasan makna peringa­tan: “Hari ini 1 Juni 2026, kita kembali berdiri di atas tanah pusaka untuk memperingati hari lahir Pancasila. Lebih dari sekedar seremoni tahu­nan, hari ini adalah momen refleksi untuk memastikan bahwa api Pancasila tetap menyala dalam jiwa setiap insan Indonesia,” katanya. 

Mengusung tema “Pancasila Pe­mersatu Bangsa, Pondasi Per­da­maian Dunia”, pidato tersebut mene­gaskan bahwa Pancasila bukan hanya relevan untuk menjaga ke­utuhan bangsa, tetapi juga menjadi jawaban bagi terciptanya perda­maian dunia yang abadi.

“Pancasila adalah bintang penun­tun yang telah membuktikan keta­ngguhannya. Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan anca­man fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagai­mana keberagaman yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau dan ratusan etnik dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan,” ungkap.

Lebih lanjut, Yudian melalui Julia­na menegaskan, posisi Indonesia di kancah global. Sesuai amanat Pem­bukaan UUD 1945, Indonesia memi­liki tanggung jawab konstitusional untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia. “Indonesia bukan hanya penonton dalam kancah dunia. Sesuai amanat Pembukaan UUD 1945, kita memiliki tanggung jawab konstitusio­nal untuk ikut melak­sanakan keter­tiban dunia yang ber­dasarkan kemer­dekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pancasila adalah fondasi dari kebijakan luar negeri kita yang bebas aktif,” tegas dr. Juliana.

Nilai musyawarah mufakat dan kemanusiaan yang adil dan beradab disebut sebagai instrumen diplo­masi Indonesia. Kontribusi nyata ditunjukkan melalui peran Pasukan Perdamaian PBB, mediasi konflik regional, hingga konsistensi menyua­rakan keadilan bagi bangsa terjajah.

“Sebagai bangsa yang besar kita terus menunjukkan kepemimpinan nyata. Kontribusi pasukan perda­mai­an Indonesia di bawah bendera PBB, peran kita dalam mediasi konflik regional, serta konsistensi kita dalam menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa terjajah adalah pengeja­wantahan dari sila kedua: Ke­manusiaan yang adil dan ber­adab. Kita ingin dunia melihat bahwa perdamaian bukan sekedar ketia­daan perang, melainkan hadirnya keadilan bagi seluruh umat manu­sia,” Katanya.

Peringatan ini juga menjadi seruan khusus bagi generasi muda dan para pemimpin daerah. Yudian melalui  Juliana mengingatkan agar Pan­casila tidak berhenti sebagai simbol, tetapi menjadi ideologi yang hidup dan diimplementasikan.

“Indonesia Raya bukanlah mimpi kosong. Namun, kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa arah moral bisa menyesatkan. Oleh karena itu saya mengajak seluruh elemen bangsa terutama generasi muda sebagai penjaga masa depan untuk menja­dikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup – living ideology. Ja­ngan biarkan nilai-nilai luhur ini hanya menjadi hiasan di dinding kantor atau teks di buku sejarah,” harapnya. 

Pesan tegas disampaikan kepada para pemangku kebijakan agar seti­ap program dan kebijakan publik ber­pihak pada keadilan sosial dan tidak meninggalkan masyarakat kecil.

“Kepada para menteri dan kepala daerah: Pancasila di tangan kalian. Pastikan setiap kebijakan publik yang lahir berlandaskan keadilan so­sial, memenuhi rasa keadilan publik, menjamin hak-hak masya­rakat terke­cil, dan tidak membiarkan ada rakyat yang merasa ditinggal­kan. Kita ha­rus tetap melawan se­gala bentuk intoleransi dan radika­lisme yang dapat merusak harmo­nisasi kebang­saan kita,” katanya.

Di akhir pidato, seluruh peserta upacara diajak meneguhkan komit­men kebangsaan. Pancasila diharap­kan terus hidup dalam denyut nadi setiap anak bangsa, termasuk mas­yarakat di wilayah perbatasan sela­tan Indonesia, Tanimbar. 

Upacara ditutup dengan pengi­baran bendera oleh mantan Paskibra KKT 2025, sebagai simbol estafet semangat kebangsaan dari generasi ke generasi. Peringatan Harlah Pancasila 2026 di Saumlaki menjadi pengingat bahwa dari ujung timur Indonesia, nilai Pancasila terus dirawat untuk menjaga persatuan Tanimbar dan berkontribusi bagi perdamaian dunia. Upacara dihadiri Kapolres Kepu­lauan Tanimbar, Ketua Peng­adilan Saumlaki, per­wakilan Forko­pimda, Tokoh Agama, Pimpinan OPD, serta seluruh ASN lingkup Pemda KKT.(S-26)

BERITA TERKAIT