AMBON, Siwalima.id – Federasi Tinju Profesional Indonesia Provinsi Maluku resmi terbentuk, dimana Hendrik F Watubun dipercaya sebagai ketua, sekaligus pemegang mandat untuk menyusun struktur kepengurusan organisasi yang akan mewadahi para petinju profesional di Maluku.
Ketua FTPI Maluku, Hendrik F Watubun kepada Siwalima.id di Ambon, Kamis (11/6) mengaku, kehadiran FTPI Maluku menjadi momentum penting dalam menata pembinaan olahraga tinju profesional di daerah.
“Saya ditunjuk sebagai ketua sekaligus pemegang mandat untuk menyusun struktur organisasi FTPI di Maluku. Ini merupakan tanggung jawab besar untuk membangun tinju profesional yang lebih baik di daerah,” ucap Watubun.
Menurutnya, FTPI Maluku akan fokus mengorganisir seluruh petinju profesional asal Maluku agar mendapat pembinaan yang terarah dan berkelanjutan.
“Kita akan mengorganisir atlet-atlet tinju profesional di Maluku untuk memberikan yang terbaik bagi daerah ini. Mereka harus mendapatkan perhatian dan pembinaan yang maksimal agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” ucap Watubun.
Ia mengaku, ke depan identitas dan status petinju profesional harus ditata dengan baik agar proses pembinaan berjalan efektif.
“Petinju profesional yang sudah mewakili suatu daerah harus memiliki komitmen terhadap daerah yang dibelanya. Pembinaan atlet harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan agar prestasi yang dicapai juga maksimal,” ujar Watubun.
Selain fokus pada atlet yang telah berstatus profesional, FTPI Maluku juga akan mempersiapkan program pembinaan jangka panjang bagi generasi muda melalui kerja sama dengan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
“Kami akan membangun sinergi dengan pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Pembinaan olahraga tidak bisa berjalan sendiri, tetapi harus didukung semua pihak agar hasilnya maksimal,” janji Watubun.
Salah satu langkah yang akan didorong kata Watubun adalah, mengintegrasikan pembinaan tinju dengan program sekolah rakyat yang saat ini menjadi salah satu program pemerintah pusat.
“Kami melihat program SR bisa menjadi ruang yang baik untuk pembinaan atlet. Minimal ada ruang yang dapat dimanfaatkan untuk mendidik dan membina calon-calon petinju profesional sejak usia sekolah,” cetus Watubun.
Ia menilai, pembinaan petinju tidak cukup hanya dilakukan di sasana, tetapi harus dipadukan dengan pendidikan formal, sehingga mampu membentuk atlet yang berprestasi dan memiliki karakter yang baik.
“Petinju tidak hanya berlatih di sasana. Mereka juga harus dibina melalui pendidikan yang baik. Karena itu kami ingin pembinaan dilakukan sejak usia sekolah, khususnya sejak SMA, ketika mereka mulai menunjukkan minat dan bakat di cabang olahraga tinju,” tandas Watubun.
Watubun optimis, dengan pembinaan yang terstruktur sejak usia dini, Maluku akan mampu melahirkan petinju-petinju profesional yang berprestasi dan mampu mengharumkan nama daerah di tingkat nasional maupun internasional.
“Maluku memiliki banyak talenta tinju yang luar biasa. Tugas kita adalah menyiapkan sistem pembinaan yang baik agar mereka bisa berkembang dan mencapai prestasi tertinggi,” pungkas Watubun.(S-26)