SIWALIMA.id > Berita
60 Hari untuk Membuktikan
Opini | Senin, 22 Juni 2026 pukul 13:37 WIT

PADA Jumat, 19 Juni 2026, di Jenewa, Swis, sebuah dokumen akan ditandatangani. Amerika Serikat dan Iran, dua negara yang sejak 28 Februari saling menghantam lewat rudal, blokade, dan proxy, sepakat untuk berhenti sejenak. Selat Hormuz akan dibuka kembali. Blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan dicabut. Dunia bernapas lega.

Namun, jangan terlalu dalam menarik napas itu. Yang ditandatangani di Jenewa bukan perdamaian. Yang ditandatangani ialah kesepakatan, dan kesepakatan bisa berakhir dengan kegagalan.

Trump Mundur, Iran tak Menyerah

Mari kita baca ini dengan jujur. Kesepakatan itu hanya memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Isu-isu paling krusial, program nuklir Iran, pencairan aset beku, masa depan Libanon, semuanya ditunda untuk negosiasi berikutnya. Siapa yang mundur lebih jauh?

Ingat bagaimana Trump memulai. Ia menuntut Iran tunduk total: hentikan pengayaan uranium, bubarkan proxy, buka selat tanpa syarat. Kini kesepakatan yang muncul membiarkan program rudal Iran tetap utuh, infrastruktur nuklir tidak disentuh, dan rezim tetap berdiri. Bahkan laporan menyebut AS akan melepas sekitar US$12 miliar aset beku Iran sebagai bagian dari paket pembuka.

Iran bertarung melawan dua kekuatan bersenjata paling canggih di dunia, Amerika dan Israel, di setiap lini: udara, laut, proxy, siber, opini dunia. Sejak 28 Februari, Iran menutup Selat Hormuz dan menahan sekitar 20% pasokan minyak dunia sebagai kartu tekanan. Itu bukan senjata lemah dan Iran tidak menyerahkannya tanpa imbalan.

60 HARI YANG PALING BERBAHAYA

Namun, justru di sinilah letak bahayanya. Bahkan setelah MoU ditandatangani, Iran dan AS punya pembacaan berbeda tentang apa yang disepakati. Wakil Menlu Iran menyatakan negosiasi nuklir 60 hari baru akan dimulai setelah AS mencairkan dana beku. Pihak AS menolak klaim itu. Dua pihak menandatangani dokumen yang sama, tapi membacanya dengan cara berbeda. Itu bukan fondasi perdamaian; itu resep untuk krisis berikutnya.

Enam puluh hari ke depan ialah labirin. Di dalamnya: seberapa jauh Iran bersedia membuka program nuklir mereka, berapa harga yang AS siap bayar, dan, yang paling penting, apakah Israel akan membiarkan semuanya berjalan.

ISRAEL, SEKUTU YANG MULAI BERGERAK SENDIRI

Di sinilah variabel paling tidak terduga dalam persamaan ini.

Reaksi resmi pertama Israel datang dari Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, yang menyatakan kesepakatan Trump 'tidak mengikat kami' dan Israel 'bukan pihak dalam perjanjian ini'. Netanyahu menegaskan bahwa 'dengan perjanjian maupun tanpa perjanjian', ia akan terus berjuang mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Ini bukan sekadar drama politik domestik. Israel masih melanjutkan operasinya di Libanon, tempat Hizbullah, sekutu Iran, bertempur. Iran sendiri mensyaratkan perlindungan atas Hizbullah dalam setiap gencatan senjata yang melibatkan diri mereka. Artinya: satu serangan Israel di Libanon yang salah hitung bisa meruntuhkan seluruh bangunan kesepakatan Jenewa sebelum tintanya kering.

Trump bahkan secara terbuka menyebut Netanyahu sebagai 'orang yang sangat sulit' dalam wawancara pers, setelah serangkaian serangan Israel yang terus berlanjut meski negosiasi sedang berjalan. Retakan di antara dua sekutu lama itu kini terlihat jelas di bawah cahaya Jenewa. Pertanyaannya bukan hanya apakah Iran akan menghormati kesepakatan itu. Pertanyaan yang lebih mendesak: apakah Israel akan membiarkannya hidup?

INDONESIA DI ANTARA PELUANG DAN KEWASPADAAN

Bagi Indonesia, berita Jenewa terasa seperti berita baik. Harga minyak mentah brent langsung merosot lebih dari 4% setelah kabar damai. Semasa konflik berlangsung, rupiah sempat menembus 18 ribu per US$, yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern Indonesia. Stabilisasi Selat Hormuz berarti stabilisasi rantai pasok energi, tekanan inflasi mereda, dan ruang fiskal APBN kembali bernapas. Namun, Indonesia tidak boleh berhenti di analisis ekonomi semata.

Selama konflik ini, Indonesia memilih sikap yang konsisten: mendesak gencatan senjata, menolak kekerasan, dan mendukung diplomasi. Sikap itu tetap relevan, tetapi kewaspadaan tidak boleh surut. Keberhasilan atau kegagalan negosiasi 60 hari ke depan akan menentukan apakah stabilitas yang tercipta hari ini menjadi awal perdamaian atau sekadar jeda sebelum eskalasi berikutnya.

BUKAN AKHIR, MELAINKAN UJIAN

Jenewa bukan titik akhir. Jenewa ialah ujian pertama dari rangkaian ujian yang jauh lebih berat. Iran menegaskan ini baru 'langkah awal' dan perjanjian final belum tercapai. Benar. Yang tersisa ialah pertanyaan-pertanyaan yang paling keras: Apakah Iran benar-benar bersedia membatasi program nuklir mereka secara permanen? Apakah Trump, yang menghadapi midterm November, punya cukup waktu dan kemauan politik untuk menyelesaikan perundingan 60 hari? Apakah Israel akan memilih menjadi bagian dari solusi atau tetap menjadi variabel yang bisa menghancurkan semuanya?

Perdamaian yang rapuh bisa runtuh lebih cepat daripada yang kita kira. Selat Hormuz mungkin akan terbuka Jumat ini. Namun, pintu menuju perang berikutnya belum tertutup. Oleh: Agus Kristiyanto 

Guru Besar Sports Policy dari FKOR  Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dewan Penasihat Korminas.(*)

BERITA TERKAIT