AMBON, Siwalima.id - Akademisi Fisip Unpatti, Victor Ruhunlela menilai, jika MPH Sinode GPM ingin Rumah Sakit Sumber Hidup kembali baik maka MPH harus berhenti mengintervensi.
Hal ini disampaikan Ruhunlela merespon rencana MPH Sinode GPM yang akan melakukan kerja sama dengan RS Priamaya Hospital PGI Cikini, guna menata RS milik GPM tersebut.
Ruhunlela mengungkapkan penyelesaian kemelut di Rumah Sakit Sumber Hidup itu merupakan kewenangannya ada di MPH Sinode sebagai pemilik rumah sakit.
Namun sayangnya sampai saat ini kelihatan masih terdapat begitu banyak masalah yang belum mampu diselesaikan oleh MPH Sinode GPM, termasuk tata kelola keuangan yang berujung pada tidak dibayarkannya hak-hak dokter spesialis tersebut.
“Hasil audit internal RS Sumber Hidup yang dilakukan dahulu oleh tim pernah menemukan temuan yang sudah disampaikan kepada MPH, tapi sampai sekarang tidak diketahui proses apa yang sudah di lakukan MPH terhadap setiap temuan itu atau belum termasuk soal jasa dokter spesialis yang belum dibayar dan persoalan lain,” ungkap Ruhunlela kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Sabtu (18/4).
MPH Sinode GPM kata Ruhunlela mestinya menyelesaikan persoalan yang terjadi termasuk masalah manajemen yang saat ini dikelola oleh direktur yang belum memiliki kemampuan manajemen yang mumpuni.
Disisi lain, jika dilihat dengan objek sesungguhnya terlalu banyak intevensi dari MPH Sinode GPM terhadap jalannya rumah sakit, dan ini mengancam operasional rumah sakit.
“Kita lihat juga terlalu banyak intevensi dari MPH, terbuka masa seorang pendeta menjadi ketua yayasan kesehatan ini kan cilaka. Kalau sedikit-sedikit diintervensi oleh MPH Sinode itu yang repot, sehingga mestinya dikelola secara profesional oleh orang-orang yang professional di bidang kesehatan,” jelasnya.
Ruhunlela menegaskan MPH memang sudah saatnya berhenti mengintervensi, artinya MPH Sinode GPM sebagai pemilik hanya mengontrol tetapi dalam penentuan manajemen dan juga kebijakan harus melihat orang-orang yang punya kemampuan dan profesionalisme.
Ruhunlela mengaku jika MPH Sinode GPM ingin bekerja sama dengan RS Priyama Hospital maka hal itu baik dalam upaya untuk menyelesaikan persoalan di RS Sumber Hidup.
Namun jika MPH Sinode GPM terus melakukan intervensi terhadap pengelolaan rumah sakit, juga tentu tidak akan membawa manfaat besar walaupun sudah bekerja sama dengan pihak ketiga.
“Tidak jadi masalah kamu mau kerja sama untuk perbaikan tapi kalau MPH tinggal intevensi ini yang bahaya. Jadi kuncinya stop Intevensi dalam hal apapun itu baru bisa ada perubahan di RS Sumber Hidup,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua MPH Sinode GPM, Pendeta Sacharias Izack Sapulette yang dikonfirmasi Siwalima terkait dengan melibatkan pihak ketiga namun tidak direspon baik melalui telepon maupun pesan whatsappnya, begitu juga dengan Direktur RS Sumber Hidup dr. Trivinanda Abednego.
Pembersihan
Sumber terpercaya Siwalima di RS Sumber Hidup menyebutkan, informasi menyangkut pihak ketiga yang akan mengelola sudah beredar di kalangan pegawai sejak awal tahun 2026, namun kebenaran akan informasi itu diketahui setelah, Jumat (17/4) saat seluruh pegawai sementara melakukan kerja bakti.
Kerja bakti ini merupakan instruksi dari direktur untuk membersihkan seluruh areal rumah sakit, yang dilakukan oleh seluruh pegawai dalam beberapa hari ini.
Kerja bakti membersihkan areal rumah sakit ini dilakukan, lantaran informasi yang beredar, bahwa Senin (20/4) pihak ketiga yang akan mengelola RS Sumber Hidup sudah tiba di Ambon dan akan datang untuk melihat RS Sumber Hidup.
“Kita diperintahkan direktur untuk kerja bakti dari hari Kamis kemudian dilanjutkan pada Jumat dan Sabtu. Sesuai informasi yang beredar itu, hari Senin ini, pihak ketiga sudah datang ke RS Sumber Hidup,” tutur beberapa pegawai saat ditemui Siwalima di sela-sela keja bakti di RS Sumber Hidup.
Saat ditanya apakah para pegawai mengetahui, bahwa pihak ketiga yang akan menangani RS Sumber Hidup adalah RS Primaya Hospital PGI Cikini, para pegawai ini mengaku, yang mereka tahu hanyalah pihak ketiga, sementara menyangkut dengan RS Primaya Hospital mereka tidak mengetahuinya.
Sementara menyangkut dengan jasa dokter yang belum dibayar, para pegawai ini mengaku, kemungkinan besar akan dibayarkan semua tunggakan oleh pihak manajemen rumah sakit.
“Yang kita dengar-dengar itu, orang-orang dibagian keuangan mulai siapkan data untuk melunasi hutang jasa para dokter spesialis sebelum pihak ketiga datang tangani rumah sakit ini. Namun kapan dong bayar itu ktg kurang tahu pasti, yang tahu itu hanya direktur dan orang-orang keuangan,” tandas mereka.
Informasi lainnya juga menyebutkan, pihak Sinode bersama yayasan kesehatan menyusun strategi untuk melibatkan pihak ketiga danbakal bekerja saja dengan Primaya Hospital
“Primaya Hospital Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Cikini, juga dikenal sebagai Rumah Sakit PGI Cikini atau Rumah Sakit Cikini, dan pihak sinode bersama yayasan akan kerja sama dan infonya tanggal 18, hari Sabtu besok ini,” ujar sumber yang meminta namanya tak dikorankan kepada Siwalima.
Sumber ini memastikan kerja sama itu bakal dilakukan untuk menyikapi kondisi rumah sakit saat ini.
Bahkan sumber lain juga menyebutkan, pihak Sinode dan yayasan sementara lobi-lobi dengan dokter spesialis lainnya.(S-20/S-06)