SIWALIMA.id > Berita
Apakah Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Sektor Ekonomi Provinsi Maluku Tradable?
Opini | Selasa, 29 April 2025 pukul 20:55 WIT

Dewasa ini, pembicaraan mengenai trend perkem­bangan perekonomian suatu daerah dan prospeknya di masa depan terutama berkaitan dengan keunggulan komparatif (comparative advantage) dan keunggulan kompetitif (competitive advantage) serta tingkat spesialisasi sektor-sektor ekonomi di suatu daerah telah menjadi isu sentral. Hal ini dianggap menarik, mengingat keberhasilan perekonomian suatu daerah tak lepas dari tanggung jawab pemerintah daerah itu sendiri dalam proses perencanaan sampai dengan penetapan strategi kebijakan pembangunan agar dapat mencapai pertum­buhan ekonomi yang diinginkan, yang diukur melaui peningkatan produksi barang dan jasa, pada besaran produk domestik regional beruto (PDRB).

Pendapat yang disebut terakhir di atas, berkaitan dengan aspek pembangunan regional yang bertujuan untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan perubahan struktur. Perubahan struktur ekonomi dapat berupa peralihan dari kegiatan perekonomian ke non-pertanian, dari industi ke jasa, perubahan dalam skala unit-unit produktif, serta perubahan status kerja buruh.

Karena itu, konsep pembangunan regional sangat tepat jika didukung oleh teori pertumbuhan ekonomi, teori basis ekonomi, dan spesialisasi. Artinya bahwa, jika daerah memiliki daya saing dan tingkat spesialisasi suatu sektor, maka daerah tersebut setidaknya diang­gap mampu menggerakkan sektor tersebut menjadi sektor unggulan yang dapat dicapai melalui upaya meningkatkan permintaan yang mengakibatkan laju pertumbuhan sektor akan berkembang lebih cepat, mampu mengadopsi teknologi kreatif yang akan me­nyebabkan peningkatan kapasitas produksi, dan mampu mendapatkan return of investment (sektor privat dan sektor publik), serta mampu menciptakan perkem­ba­ngan yang berkelanjutan (Radianto, 2003). Kini muncul pertanyaan, apakah pretasi sektor unggulan di Maluku tradable? Bagaimana dengan keunggulan kompettitif dan tigkat spesialisasi pada setiap sektor ?

Prestasi Sektor Unggulan Maluku

 

Sebagaimana diketahui bahwa prestasi pembangu­nan suatu daerah, dapat diukur melalui keberhasilan pembangunan pada suatu wilayah yang dapat diukur dengan melihat pada besarnya laju pertumbuhan ekonominya. Namun, dalam kenyataannya kadang terjadi pertumbuhan yang kurang berkualitas. Oleh karena itu, perkembangan setiap sektor dalam struktur PDRB suatu provinsi perlu dicermati apakah memiliki daya saing komparatif atau memiliki sektor basis atau tidak, jika dibandingkan terhadap sektor yang sama secara nasional. Kini muncul pertanyaan, sektor apa saja yang memiliki keunggulan komparatif di Maluku?

Dalam kaitannya dengan pertanyaan di atas, penulis menggunakan alat analisis Location Quotient (LQ) periode 2019-2024 (BPS, 2024), menunjukkan bahwa terdapat 7 kategori ekonomi yang menunjukkan keung­gulan komparatif (LQ > 1) yakni: 1) Pertanian, Kehu­tanan dan Perikanan; 2) Pengadaan Air, Pengolahan Sampah dan Daur Ulang; 3) Perdagangan Besar-Eceran dan Reparasi Mobil-Sepeda Motor; 4) Transportasi dan Pergudangan; 5) Adiministrasi Pemerintahan, Pertaha­nan dan Jaminan Sosial Wajib; 6) Jasa Pendidikan dan; 7) Jasa Kesehatan dan kegiatan sosial. Untuk lebih jelasnya, data yang menggambarkan keunggulan komparatif masing-masing sektor dapat dapat diikuti grafik berikut.

Gambar 1

 

LQ Rata-Rata Provinsi Maluku Tahun 2019 – 2024

Sumber: BPS (data diolah)

Melihat data-data pada grafik di atas, menunjukkan bahwa terdapat 6 sektor ekonomi yang memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage). Jika dicermati menurut subkategori, maka keunggulan komparatif pada kategori pertanian, kehutanan dan perikanan, sebetulnya ditopang oleh subkategori pertanian, peternakan, perburuan dan jasa pertanian dengan nilai LQ pada secara rata-rata sebesar 1,05 dan subkategori perikanan dengan LQ sebesar 5,39.

Begitupun untuk Kategori Perdagangan Besar-Eceran dan Reparasi Mobil-Sepeda Motor, dipengaruhi oleh subkategori perdagangan mobil, sepeda motor dan reparasinya dengan LQ sebesar 3,49. Hal yang sama juga terjadi  pada Kategori Transportasi dan Pergu­da­ngan Provinsi Maluku yang dipengaruhi oleh subkategir angkutan laut dengan LQ sebesar 2,55 dan subkategori angkutan sungai danau dan penyeberangan dengan LQ sebesar 3,22, dan subkategori angkutan laut dengan LQ sebesar 3,08.

Dari data-data potensi keunggulan komparatif pada masing-masing kategori dan subkategori yang dikemukakan di atas, manunjukkan bahwa masing-masing kategori dan subkategori tersebut merupakan kategori dan subkategori potensial yang dapat dikem­bangkan sebagai penggerak perekonomian daerah. Namun sayangnya, masing-masing sektor unggulan di atas, belum mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi sebagaimana yang diharapkan, bahkan pada tahun 2023 laju pertumbuhan ekonomi sempat turun dari 5,31% pada tahun 2022 menjadi 5,21% di tahun 2023. Hal ini menunjukkan bahwa, sektor-sektor yang memiliki keunggulan komparatif belum tradable atau sektor-sektor yang dimaksud belum menununjukkan sektor yang dapat diperdagangkan antar wilayah.

Keunggulan Kompetitif dan Spesialisasi Perekonomian Maluku

Sebagaimana diketahui bahwa suatu wilayah dikatakan memiliki keunggulan kompettitif (competitive advantage) dan sekaligus spesialisi, jika pertumbuhan dan peranannya lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan dan peranan kategori yang sama dalam perekonomian Provinsi Maluku.

Berdasarkan hasil perhitungan BPS, menunjukkan bahwa terdapat 11 kategori ekonomi yang mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialisasi di Provinsi Maluku masing-masing adalah: 1) Kategori pertanian, kehutanan dan perikanan; 2) Kategori industri pengolahan; 3) Kategori pengadaan listrik dan gas; 4) Ketegori konstruksi; 5) perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor; 6) Kategori jasa keuangan dan asuransi; 7) Kategori real estate; 8) Kategori jasa perusahaan; 9) Kategori administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib; 10) Kategori jasa pendidikan dan; 11) kategori jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Untuk lebih jelasnya, hasil perhitungan berdasarkan BPS, dapat diikuti pada grafik 2 berikut.

Gambar 2

 

Identifikasi Keunggulan Kompetitif Perekonomian Provinsi Maluku Tahun 2019 – 2024

Sumber: BPS (data diolah)

Dari data-data pada grafik di atas, jika dicermati terdapat 25 subkategori yang mempunyai keunggulan kompetetitif dan spesialisasi, masing-masing adalah: 1) subkategori pertanian, peternakan, perburuan dan jasa pertanian; 2) subkategori kehutanan dan peneba­ngan kayu; 3) subkategori perikanan; 4) subkategori pertambangan dan penggalian lainnya; 5) subkategori industri makanan dan minuman; 6) subkategori industri tekstil dan pakaian jadi; 7) subka­tegori industri kayu, barang dari kayu dan gabus dan barang anya­man dari bambu, rotan dan sejenis­nya; 8) subkategori industri kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman; 9) subkategori industri karet, barang dari karet dan plastik; 10) subkategori industri barang galian bukan logam; 11) industri logam dasar; 12) subkategori indus­tri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik; 13) subkategori industri mesin dan perlengkapan; 14) subkategori in­dus­tri furnitur; 15) subkategori industri pengolahan lainnya; 16) subkategori ketenagalistrikan; 17) subkategori pengadaan gas dan produksi es; 18) subkategori perda­gangan mobil, sepeda motor dan reparasinya; 19) subkategori perda­ga­ngan besar dan eceran bukan mobil dan sepeda motor; 20) subka­tegori angkutan udara; 21) subka­tegori penyedia makan minum; 22) subkategori jasa perantara keua­ngan; 23) subkategori asuransi dan dana pensiun; 24) subkategori jasa keuangan lainnya dan: 25) subka­tegori jasa penunjang keuangan. Untuk lebih jelasnya, hasil perhitu­ngan spesialisasi perekonimian berdasarkan BPS, dapat diikuti pada grafik 3 berikut.

Gambar 3

Identifikasi Spesialiasi Perekonomian Provinsi Maluku

Tahun 2019 – 2024

Sumber: BPS (data diolah)

Melihat pada hasil perhitungan keunggulan kompetitif dan spesia­lisasi Provinsi Maluku, menunjuk­kan bahwa Provinsi Maluku memi­liki cukup banyak potensi keung­gulan kompettitif dengan spesia­liasinya. Namun, masing-masing sektor unggulan di atas, belum mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi sebagaimana yang diha­rapkan. Padahal, semestinya sektor-sektor atau subsektor yang memiliki keunggulan kompetitif dianggap sebagai leading sector, karena selain mampu mencukupi kebutuhan domestik, tetapi juga dapat diperda­gangkan keluar daerah dan bahkan diekspor keluar negeri. Untuk itu, diperlukan ka­jian lebih jauh terutama ber­kai­tan dengan ke­unggulan masing-masing kabupaten/ko­ta, sehingga peng­em­bangan sek­tor atau sub­sektor unggu­lan pada setiap kabupa­ten/kota dapat menjadi pengge­rak per­eko­no­mi­an (prime mover) dan mesin per­tumbuhan (generator) bagi per­tum­buhan perekonomian Provinsi Ma­luku sebagaimana yang diharapkan.

Catatan Penutup

Melihat pada potensi keunggulan komparatif, keunggulan kompetitif dan spesialisasi masing-masing sektor di atas, maka direkomendasi­kan agar : (1) Diperlukan penga­wasan dan evaluasi yang lebih mendalam terhadap perekonomian kabupaten/kota terutama berkaitan dengan keunggulan komparatif, keunggulan kompetitif dan spesia­lisasi masing-masing sektor yang dimiliki, agar kebijakan untuk me­nggerakkan perekonomian suatu daerah kabupaten/kota dapat mem­berikan dampak positif bagi pertum­buhan daerah sekitarnya yang memiliki keterkaitan sehingga ke depan, akan tercipta pertumbuhan wilayah yang merata pada kabu­paten/kota;

(2) Bagi kabupaten/kota yang memiliki klasifikasi relatif tertinggal seperti Kabupaten: Kepulauan Ta­nim­bar, Maluku Tengah, Buru, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur dan Buru Selatan (lihat misal­nya: Radianto pada Siwalima, 22/04/2025), diperlukan suatu kebijakan berupa insentif bagi masuknya in­vestasi swasta pada daerah dimak­sud. Insentif yang dimaksudkan be­rupa investasi otonom atau pem­bangunan dan perbaikan sarana dan prasarana yang dibiayai oleh peme­rintah daerah, yang selama ini diang­gap menghambat bagi masuknya investasi swasta, serta memberikan jaminan kemudahan dalam perijinan dan lain sebagainya. Sehingga diharapkan adanya investasi akan mendorong berkembangnya sektor-sektor unggulan sehingga akan me­ningkatkan pertumbuhan ekonomi;

3) Bagi daerah kabupaten yang letaknya berdekatan dengan Kota Ambon, seperti Kabupaten: Maluku Tengah, Buru, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Buru dan Buru Selatan, sebaiknya memanfaatkan keberadaan Kota Ambon sebagai penggerak pertumbuhan dengan memaksimalkan potensi keunggulan komparatif dan kompetitif masing-masing wilayah, terutama pada produksi sektor-sektor yang dapat diperdagangkan.

Dengan demikian jika yang di­ingin­kan adalah for Maluku pung bae, maka dibutuhkan peran pe­merintah baik pada level provinsi, maupun level kabupaten/kota untuk lebih fokus pada upaya meng­optimalkan subsektor yang memiliki keunggulan komparatif dan kom­petitif pada masing-masing wilayah kabupaten/kota, akan memiliki kemampuan produksi yang bersifat tradable, sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan per­tumbuhan ekonomi Maluku sesuai yang diharapkan. Oleh Dr. Elia Radianto, SE, M.Si. Staf Pengajar Lembaga Layanan DIKTI Wil. XII, dpk pada FEB UKIM & Sebagai Kepala Lembaga Jaminan Mutu UKIM – Ambon. (*)

BERITA TERKAIT
Iklan Homepage 2
terpopuler
mobileapps