SIWALIMA.id > Berita
Bentrok Warga Hatusua dan Kairatu Memanas
Daerah | Senin, 15 Juni 2026 pukul 17:14 WIT

AMBON, Siwalima.id - Ketegangan antara warga Negeri Hatusua dengan warga Negeri Waipirit dan Negeri Kairatu, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, kembali memanas pada Sabtu (13/6) siang.

Peristiwa tersebut diduga dipicu persoalan pemasangan patok batas lahan.

Berdasarkan data yang diterima, insiden terjadi sekitar pukul 13.30 WIT di kawasan Pertigaan Waipirit.

Berdasarkan video amatir berdurasi 11 detik yang beredar di masyarakat, sejumlah warga tampak memadati ruas jalan.

Beberapa orang terlihat membawa senjata tajam, sementara aparat TNI dan Polri bersiaga di lokasi untuk mencegah bentrokan meluas.

Mendapat laporan adanya peningkatan ketegangan, personel Polsek Waisarissa yang dipimpin Kanit Samapta, Aiptu M Sopacuaperu segera menuju lokasi untuk melakukan pengamanan awal.

Sekitar pukul 14.00 WIT, Kapolres Seram Bagian Barat, AKBP. Andi Zulkifli bersama jajaran, termasuk Kabag Ops AKP Jhon Richard Soplanit, Kasat Intelkam AKP. Joel Mauwa, dan Kasat Polairud IPDA Stanley Telussa, tiba di lokasi untuk mengendalikan situasi.

Aparat kepolisian kemudian melakukan langkah persuasif guna mencegah eskalasi konflik.

Upaya tersebut berhasil meredakan ketegangan. Sekitar pukul 15.00 WIT, massa dari Negeri Hatusua diarahkan kembali ke wilayah masing-masing, sementara warga dari Negeri Kairatu diminta membubarkan diri.

Hingga Sabtu sore, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di sekitar Desa Waipirit dilaporkan kembali kondusif. Meski demikian, aparat kepolisian masih disiagakan di lokasi untuk mengantisipasi perkembangan situasi.

“Personel Polres Seram Bagian Barat bersama Polsek Kairatu dan Polsek Waisarissa masih bersiaga di lokasi guna mengantisipasi perkembangan situasi lebih lanjut,” ujar salah satu anggota kepolisian di lokasi.

Kapolres Seram Bagian Barat, AKBP. Andi Zulkifli mengakui bentrokan kedua warga desa tersebut dipicu oleh sengketa lahan. “Pemicunya itu karena masalah lahan, saling klaim lah intinya begitu,” kata Andi kepada wartawan, Sabtu.

Andi menjelaskan, warga Desa Hatusua awalnya memasang baliho larangan beraktivitas di lokasi yang disengketakan. Namun setelah dipasang, baliho tersebut kemudian dirusak oleh orang tak dikenal sehingga memicu terjadinya ketegangan kedua desa.

“Jadi orang Hatusua pasang baliho, sebenarnya mereka tidak masalah orang Kairatu bawa ke pengadilan tidak masalah, tapi yang jadi masalah ada orang yang merusak baliho itu itu yang bikin terjadi ketegangan,” ungkapnya.

Andi menjelaskan, warga Desa Hatusua awalnya memasang baliho larangan beraktivitas di lokasi yang disengketakan. Namun setelah dipasang, baliho tersebut kemudian dirusak oleh orang tak dikenal sehingga memicu terjadinya ketegangan kedua desa.

“Jadi orang Hatusua pasang baliho, sebenarnya mereka tidak masalah orang Kairatu bawa ke pengadilan tidak masalah, tapi yang jadi masalah ada orang yang merusak baliho itu itu yang bikin terjadi ketegangan,” ungkapnya.

Menurut Andi saat ketegangan memuncak dan terjadi aksi saling serang, aparat kepolisian dan TNI langsung berusaha menengahi kedua kelompok massa dan segera membubarkan mereka.

“Tadi kita cepat turun sehingga langsung menengahi sehingga mereka tidak berhadap-hadapan secara langsung. hanya memang saling lempar terjadi,”ujarnya.

Ia memastikan dalam bentrokan tersebut tidak ada warga yang terluka baik dari Desa Hatusua maupun Kairatu. Setelah massa dibubarkan, aktivitas lalu lintas menuju dermaga Hunimua kembali normal.

“Tidak ada laporan korban luka, dan situasinya sudah kondusif ya sudah normal kembali,” katanya. Ia pun mengimbau warga kedua desa agar dapat menahan diri dan sebaiknya menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah.(S-25)

BERITA TERKAIT