AMBON, Siwalima.id - Hampir satu abad Tarekat Maria Mediatrix (TMM) mengabdi di Maluku untuk melayani dan memberdayakan masyarakat terutama di bidang sosial, pendidikan, kesehatan dan secara internal di bidang pastoral.
Peluncuran Yubileum 100 tahun TMM ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa bersama Uskup Amboina Mgr Seno Ngutra, Wakil Walikota Ambon, Ely Toisuta, serta Pimpinan Umum TMM Epifany Ongirwalu, di Katolik Center, Jumat (1/5).
Gubernur dalam sambutan mengapresiasi peranan TMM dalam mendorong pembangunan di Provinsi Maluku jelang 100 tahun.
“Selaku gubernur, saya mengapresiasi peran Tarekat Maria Mediatrix dimana perannya sangat bersinergi dengan program pemerintah daerah dalam,” kata gubernur.
Menurutnya, pemda tidak dapat bekerja sendiri dalam membangun Maluku karena itu, membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk memberikan kontribusi nyata bagi pelayanan masyarakat dan pembangunan.
Ia mengaku, hampir satu abad TMM telah mengabdi dan melayani masyarakat dibidang pendidikan dan kesehatan di Maluku dan Papua hingga saat ini.
“Semangat pelayanan ini sejalan dengan visi pemerintah tahun 2025-2030 yakni melakukan transformasi menuju Maluku yang maju adil dan sejahtera menyongsong Indonesia emas 2045,” terang gubernur.
Pemerintah provinsi memandang peran lembaga keagamaan seperti ini sangat strategis dalam membangun karakter masyarakat yang beriman, berakhlak dan berkeadaban di tengah berbagi tantangan zaman baik sosial ekonomi maupun budaya.
“Nilai spiritual menjadi pondasi penting dalam harmoni dan persaudaraan di Maluku. Maluku dikenal sebagai negeri Siwalima. Negeri persaudaraan. Ini bukan sekedar warisan budaya yang harus terus dihidupkan dalam praktek kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Dalam membangun Maluku, ia menegaskan membutuhkan kolaborasi semua pihak, termasuk lembaga keagamaan untuk bersama-sama membangun manusia Maluku yang unggul tidak saja hanya secara intelektual tapi juga secara moral dan spiritual.
Pada kesempatan itu, ia mengimbau masyarakat untuk senantiasa menjaga harmoni sosial sebab dalam kompetisi dunia yang bergejolak dan kondisi ekonomi nasional yang tidak mudah dapat berpengaruh terhadap Maluku maka kerukunan antar warga masyarakat menjadi penting dan perlu dijaga.
“Dalam kondisi ini kita harus menyatu hati dan sikap kita menyikapi persoalan yang kita hadapi. Kita harus berusaha untuk merajut dan memperkuat harmoni sosial,” pintanya.
Sementara itu, Uskup Keuskupan Amboina Mgr. Seno Ngutra juga menyampaikan apresiasi atas dedikasi para suster Tarekat Maria Mediatrix yang tetap setia melayani dengan rendah hati.
Ia mengaku terharu melihat semakin banyaknya panggilan hidup membiara, termasuk dari wilayah kepulauan.
Uskup juga mengingatkan pentingnya dukungan doa bagi pemerintah, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah.
Gereja bersama elemen masyarakat lainnya akan terus mendukung pemerintah melalui pelayanan dan doa,” kata Uskup.
Dikatakan, peluncuran yubileum ini menjadi momentum awal menuju puncak perayaan 100 tahun TMM, sekaligus mempertegas komitmen tarekat dalam menghadirkan pelayanan kasih di tengah masyarakat.
Di tempat yang sama, Wawali Ambon, Ely Toisuta juga mengapresiasi perjalanan Tarekat Maria Mediatrix (TMM) menuju 1 abad pelayanan kepada masyarakat.
Toisuta menilai hampir satu abad perjalanan TMM merupakan kesaksian iman yang nyata melalui pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan dan sosial.
Ia menjelaskan tema perayaan, “Berakar dalam Kristus, Berbuah bagi Dunia” yang merujuk pada Injil Yohanes 15:5, dinilai mengandung pesan mendalam tentang pentingnya relasi dengan Kristus sebagai sumber kekuatan dalam pelayanan.
“Pemerintah kota mengapresiasi setinggi-tingginya atas kontribusi TMM dalam membangun masyarakat yang lebih berdaya, peduli dan bermartabat,” kata Walikota Ambon Bodewin Wattimena dalam sambutan yang dibacakan Toisuta.
Momentum ini lanjutnya sebagai ajang refleksi dan pembaruan dalam menyongsong Yubileum 100 Tahun pada 2027, sekaligus memperkuat komitmen pelayanan dan memperluas karya kasih di tengah masyarakat.
Di sisi lain, Pimpinan Umum Tarekat Maria Mediatrix, Suster Epifany Ongirwalu, menegaskan pencanangan ini bukan sekadar seremoni, melainkan ungkapan iman dan syukur atas karya Allah yang terus hidup dalam sejarah.
“99 tahun perjalanan Maria Mediatrix bukanlah perjalanan biasa. Ini adalah kisah tentang Tuhan yang setia, yang memanggil, menjaga, dan tidak pernah meninggalkan karya-Nya, khususnya di tanah Maluku yang kita cintai,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, karya pelayanan TMM bertumbuh dari dasar yang sederhana, bahkan melalui perjuangan, doa dan pengorbanan, hingga kini berkembang dan memberi manfaat luas bagi Gereja dan masyarakat.
Menurutnya, para suster TMM merupakan bagian dari anak-anak Maluku yang lahir, dibesarkan dalam iman umat, dan diutus untuk melayani tidak hanya di Maluku, tetapi juga di Papua dan berbagai daerah lainnya.
“Dari pusat di Ambon, perutusan itu mengalir ke sekolah-sekolah, rumah sakit, klinik, hingga paroki-paroki dan pelosok kehidupan. Kami hadir untuk satu tugas sederhana namun mendalam, yakni menghadirkan kasih Allah melalui hidup kami,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Suster Epifany mengajak seluruh anggota tarekat dan umat untuk tetap setia dalam panggilan serta teguh dalam persaudaraan.(S-20/S-30)