AMBON, Siwalima.id - Ratusan siswa di Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat pada 20-21 Oktober 2025, baru saja mengalami keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG), kembali kasus yang sama terjadi di Piru.
Tercatat delapan siswa SD Negeri 2 Piru, Kabupaten SBB harus mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Piru, Jumat (14/11) setelah mengkonsumsi menu MBG.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.00 WIT, dimana para siswa diketahui mengalami gejala mual, pusing, hingga muntah-muntah tak lama setelah menyantap menu MBG, berupa telur dan sayur yang diduga sudah tidak layak dikonsumsi.
Salah satu Guru SDN 2 Piru, Agustina Huwae mengungkapkan, keluhan para siswa muncul hampir bersamaan, sehingga membuat para guru panik.
“Anak-anak tiba-tiba mengeluh mual, ada yang muntah dan pusing. Kami langsung membawa mereka ke Puskesmas Piru,” jelas Huwae kepada wartawan di Puskesmas Piru.
Insiden ini kembali memicu kekhawatiran pihak sekolah. Mereka menilai kejadian berulang ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terutama terkait pengawasan dapur penyedia MBG.
“MBG untuk sekolah kami berasal dari dapur SPPG yang ada di depan Kantor Dinas Pendidikan SBB,” ungkap Huwae singkat.
Para siswa saat dibawah ke Puskesmas Piru, langsung ditangani oleh dokter dan para medis secara intensif, dan sekitar pukul 12.31 WIT, seluruh siswa sudah dalam penanganan tenaga medis.
Bahkan, kondisi mereka berangsur membaik dan beberapa diantaranya telah diizinkan pulang siang itu.
Ratusan Siswa Keracunan
Sebelumnya diberitakan dalam sehari, jumlah siswa keracunan Makan Bergizi Gratis, di Kabupaten Seram Bagian Barat naik lebih dari seratus persen.
Bertambahnya jumlah siswa keracunan tersebut sesuai data yang dihimpun Siwalima di Puskesmas Waimital 73 siswa, sedangkan puskesmas Kairatu 156 siswa. Sehingga total siswa yang alami keracunan sebanyak 229 siswa mulai dari tingkat TK, SD dan SMA.
Pantauan Siwalima, bertambahnya korban saat para siswa dilarikan ke Puskesmas Kairatu dan Pus-kesmas Waimital untuk menjalani perawatan karena merasakan pusing dan mual-mual.
Kadis Pendidikan dan Kebudayaan SBB, Sunnah Umaya Patty saat dikonfirmasi Siwalima melalui telepon selulernya, Selasa (2/10) membenarkan, jumlah siswa yang mengalami keracunan bertambah.
“Sebelumnya hanya mencapai 100, tetapi di hari kedua bertambah sebanyak 229 orang. Keracunan ini bukan saja siswa TK, SD, tetapi juga siswa SMA. Semua siswa saat ini sudah ditangani dan menjalani perawatan di Puskesmas Kairatu dan Puskesmas Waimital,” ujarnya.
Kadis menambahkan, data 229 siswa ini masih bersifat sementara, jika sudah valid maka akan disampaikan. “Saat ini saya hanya sampaikan data sementara, apabila data sudah valid, saya akan sampaikan,” ucapnya.
BPOM Uji Sampel
Sementara itu, Juru Bicara Pemprov Maluku, Kasrul Selang mengungkapkan, saat ini Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan sudah mengambil sampel menu MBG untuk diuji.
Disisi yang lain, lanjut mantan Sekda Maluku ini, pihak kepolisian SBB melakukan investigasi
“Saat ini polisi sementara investigasi kemudian Badan Gizi Nasional (BGN) sementara periksa, tetapi BGN melalui satuan satuan yang dibawahnya ada SPPG punya SOP yang cukup ketat. Jadi kalau ada masalah dan dicurigai berarti itu yang terjadi masalah, dan sementara diinvestigasi oleh polisi disana dan sampelnya telah dikirim ke Balai POM,” ujar Kasrul saat dikonfirmasi Siwalima melalui telepon selulernya, Senin (21/10) malam.
Kasrul mengatakan, pihaknya membangun koordinasi Pemda SBB dan pihak-pihak terkait lainnya.
“Dari sisi pemda terhadap SOP itu kita hanya boleh berkoordinasi, kita tidak bisa intervensi, biasanya kalau ada masalah seperti ini dapurnya ditutup 2 minggu sambil menunggu hasil investigasi maupun pengujian labnya, dan tentunya kita akan panggil mereka,” ujar Kasrul
Hasil BPOM
Kepala Dinas Kesehatan Gariman Kurniawan mengaku, uji sempel menu MBG yang dilakukan oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan, telah selesai dan hasilnya diserahkan ke Dinas Kesehatan, Seram Bagian Barat.
Berdasarkan hasil uji sempel menu MBG yang menyebabkan ratusan siswa dari jenjang TK hingga SMA di Kecamatan Kairatu, Kabupaten SBB mengalami kercunan masal, ternyata berasal dari telur ayam rebus yang direbus.
“Hasil uji sempel ini kita sudah terima dari BPOM pada 28 Oktober kemarin dan ternyata telur rebus di menu MBG saat itu yang membuat ratusan siswa mengalami keracunan masal,” ungkap Kadinkes kepada Siwalima di ruang kerjannya, Senin (10/11).
Sempel yang diambil BPOM untuk diuji kata Kadinkes yakni, nasi putih, telur rebus saos balado, tahu goreng, dan sayur sup, namun ternyata telur rebuslah penyebab para siswa keracunan.
Setelah menerima hasil uji sempel tersebut dari pihak Balai POM, kata Kadinkes, pihaknya kemudian menyampaikan hasil laporan tersebut ke Polres SBB untuk melanjutkan proses penyelidikan. Selain itu,
Pemkab SBB juga telah mengeluarkan surat rekomendasi tentang penghentian sementara kegiatan MBG, khusunya penanggungjawab Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Waimital.
“Dapur MBG Waimital saat ini ditutup untuk sementara. Kalau untuk tutup parmenen bukan kewe-nangan kami di kabupaten, tapi itu langsung dari Ambon,” ucapnya.
Sementara untuk dapur MBG lainnya di SBB kata Kadinkes, tetap berjalan seperti biasanya, namun diawasi ketat oleh Dinas Kesehatan.
Pengawasan secara ketat ini dilakukan, guna menjaga jangan sampai peristiwa keracunan masal terulang lagi. “Pengawasan ini kita lakukans ecara ketat, sambil menunggu sertifikat layak higenis yang harus dimiliki dapur MBG sebagai salah satu syarat utama,” jelas Kadinkes. (S-26)