SIWALIMA.id > Berita
Maluku Negeriku Kau di Antara Delapan Provinsi yang Melahirkan Republik Indonesia
Opini | Selasa, 12 Agustus 2025 pukul 22:31 WIT

“Maluku negeriku kau di antara delapan provinsi yang melahirkan Republik Indonesia wujud perjuangan kemerdekaan“, itulah sebait lirik lagu Mars Provinsi Maluku yang sering dikumandankan pada peringatan berdirinya Provinsi Seribu Pulau ini.

Dua hari setelah Presiden Ir Soekarno memproklamirkan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), lahirlah satu Provinsi di bawah perkasanya  Gunung Salahutu dan rimbunnya pohon sagu yang bernama “Provinsi Maluku”.

Provinsi ini adalah anak tertua Ibu Pertiwi (Indonesia). Ia dibesarkan oleh angin dan gelombang ditemani matahari dan rembulan, dengan gugusan pantainya yang indah. Tanaman fuli dan bunga cengkeh yang menjadi rebutan penjajah menyertai lahirnya Provinsi berjuluk “Negeri Raja-Raja” dalam timang-timang Nusa Ina (Nusa Ina berarti pulau Ibu nama julukan di Maluku). Berjarak 2.601 kilometer dari Batavia (Jakarta) kelahiran Maluku menjadi bukti nyata keinginan rakyat untuk ikut serta merdeka dari belenggu penjajah.

Butuh waktu lima tahun bagi Maluku untuk mengurus dirinya sendiri lewat kepemimpinan Mr Johanes Latuharhary.

Maluku yang dikenal sebagai kawasan seribu pulau merupakan salah satu Provinsi tertua dalam sejarah Indonesia merdeka yang memiliki keanekaragaman sosial budaya dan kekayaan alam yang berlimpah. Maluku dinyatakan sebagai salah satu Provinsi di Indonesia bersama tujuh daerah lainnya pada dua hari setelah bangsa Indonesia memproklamasikan kemeredekaannya.

Namun secara resmi pembentukan Provinsi Maluku sebagai Provinsi Derah Tingkat I di Republik Indonesia baru terjadi 12 tahun kemudian.

Berdasarkan Undang Undang Darurat Nomor 22 Tahun 1957 yang kemudian diganti dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 1958. Seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia, Provinsi Maluku memiliki perjalanan yang panjang dan tidak dapat dilepaskan dari sejarah Indonesia secara keseluruhan. Kawasan kepulauan yang kaya rempah-rempah ini sudah dikenal di dunia internasional sejak dahulu kala.

Pada awal abad ke tujuh pelaut-pelaut dari daratan cina kerap mengunjungi Maluku untuk mencari rempah-rempah, namun mereka sengaja merahasiakannya untuk mencegah datangnya bangsa-bangsa lain ke daerah ini.

Kemerdekaan ikut dilakoni oleh putra-putri Maluku yang gagah berani. Tahun 1817 adalah awal momentum perjuangan merdeka di tanah Saparua, sekaligus antara lain menandai mulainya perjuangan merdeka di seluruh Nusantara.

Perjalanan sejarah Bangsa Indonesia mencatat bahwa perjuangan menuju kemerdekaan ikut dilakoni oleh putra-putri Maluku. Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, Maluku mempunyai posisi yang unik.

Di satu sisi banyak pemuda dari wilayah ini yang menjadi tentara di KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indische Leger) atau Angkatan Bersenjata Belanda, namun disisi lain Maluku menyumbangkan gagasan yang krusial terhadap teks Pancasila.

Tokoh-tokoh Maluku pun banyak yang berperan penting dalam mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. Masyarakat Maluku melalui tokoh-tokohnya terutama Mr Johannes Latuharhary ikut mempersiapkan Proklamasi Kemerdekaan dan turut hadir pada saat perumusan Naskah Proklamasi.

Latuharhary melakukan lobi secara personal kepada Ir Soekarno untuk menyampaikan gagasan bahwa rumusan terbaik dari sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, titik tanpa koma dan Bung Karno setuju.

Menurut Bapak Bangsa dari Maluku itu alasan rumusan “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya”, kurang ideal karena hanya berlaku pada kelompok-kelompok tertentu, sementara sebuah konstitusi harus berlaku untuk semua kelompok, semua agama, semua etnis dan seluruh rakyat Indonesi tanpa kecuali.

Selain itu rumusan sila pertama tadi juga dianggap menyulitkan bagi wilayah tertentu untuk ditarik ke dalam wilayah Republik Indonesia, Latuharhary berkata kepada Bung Karno bahwa Bangsa belanda sudah pasti sangat menyukai rumusan sila pertama yang panjang tadi, karena bisa digunakan untuk melakukan politik devide et impera (pecah belah) lalu dikuasai, bahkan disekitar tahun 1945-1950 pecah belah berdasarkan sentiment agama cukup efektif untuk menceraiberaikan persatuan di tanah air.

Sebagai bangsa yang baru bersatu dan belum mengenal secara mendalam satu sama lain, sudah pasti provokasi karena perbedaan agama untuk melakukan devide et impera akan mudah direlisasikan, namun berkat lobi tokoh-tokoh dari Maluku dan Indonesia Timur lainnya, celah untuk menghancurkan Proklamasi Republik Indonesia menjadi tertutup, sehingga sampai kini Negara Kesatuan Republik Indonesia masih berdiri kokoh dan tegak.

Sumbangsih penting lainnya dari Maluku dalam upaya  mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia adalah “Deklarasi 6 September 1945”, pada hari dan tanggal itu orang-orang Maluku yang ada di Jawa berkumpul di Jakarta lalu menghadap Presiden Soekarno untuk menyatakan tekad bahwa seluruh rakyat Maluku mendukung sepenuhnya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, kebulatan tekad ini memberikan pengaruh besar terutama secara politik, misalnya Orang-orang Maluku yang menjadi anggota KNIL, karena adanya deklarasi tersebut tidak bisa mewakili dan tidak bisa mengatasnamakan Maluku, tetapi bersifat oknum perseorangan, karena itu mereka tidak berhak untuk membuat pernyataan politik, misalnya mereka menginginkan agar Maluku berdiri sendiri dan terpisah dari Republik Indonesia.

Deklarasi 6 September 1945 juga memicu perpecahan internal di Kalangan KNIL, ini terjadi karena “Deklarasi 6 September 1945” banyak tentara KNIL khususnya yang berasal dari Maluku kemudian bergabung bersama saudaranya warga Maluku berjuang bersama mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Dengan mengambil bagian dalam turut mendorong Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, bahkan Maluku menjadi salah satu daerah yang turut melahirkan Indonesia.

Komitmen pada Nasionalisme ini ditunjukkan oleh Mr Johannes Latuharhary dalam merumuskan format bangsa Indonesia, sedang  Dr Johannes Leimena yang adalah seorang dokter dan politis  itu  telah memainkan peran penting dalam menata kerangka Indonesia Merdeka, yang juga dalam semangat Nasionalisme yang tinggi.

Selain itu tak lupa juga ada sederetan nama putra-putri terbaik Maluku pada waktu itu telah ikut berperan dalam sejarah perjuangan mewujudkan Indonesia Merdeka. Bagi Rakyat Maluku, sejarah itu harus mendorong suatu kesadaran baru untuk benar-benar membangun negeri ini, bukan hanya selangkah lebih maju, tetapi agar benar-benar maju, artinya kesadaran akan eksistensi sejarah negeri ini harus menjadi spirit untuk benar-benar mengembangkan seluruh sendi kehidupan dan pembangunan Maluku.

Provinsi Maluku merupakan Provinsi Kepulauan

terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil yang berjumlah 1.392 pulau. Provinsi Maluku berbatasan dengan sejumlah laut, yaitu Laut Seram di sebelah utara, serta Lautan Indonesia dan Laut Arafura di sebelah selatan.

Letak Provinsi Maluku diantara dua pulau yaitu Pulau Irian (Papua) dan Pulau Sulawesi serta dilalui oleh tiga alur laut Kepulauan Indonesia (ALKI) menjadikan Provinsi Maluku merupakan lokasi yang strategis di bagian timur. Provinsi yang dikenal dengan sebutan Provinsi Seribu Pulau.

Berikut Profil Gubernur pertama Provinsi Maluku ;

Mr Johannes Latuharhary (1950-1955) lahir di Ulath Saparua 6 Juli 1900, Beliau menempuh Pendidikan di Belanda dan berhasil menjadi putra Maluku pertama yang meraih sarjana di luar negeri, Beliau mengambil spesialisasi hukum adat dari Universitas Leiden.

Sesampainya di Indonesia, Latuharhary diangkat sebagai amtenaar terbeschikking (Pegawai yang diperbantukan) pada President van de Raad van Justitle (Ketua Pengadilan Tinggi) di Surabaya.

Latuharhary menjadi salah satu saksi mata dalam pembacaaan naskah proklamasi kemerdekaaan, kemudian Indonesia dibagi menjadi delapan Provinsi, dan pada saat itu Presiden Soekarno menunjuk  Mr Johannes Latuharhary sebagai Gubernur Maluku.

Mr Johannes Latuharhary dari berbagai tanggung jawab yang diberikan oleh Presiden Ir Soekarno, salah satu tugas adalah menyebarluas­kan berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sehingga dipahami dan didengar rakyat Maluku, termasuk surat kabar Harian Merdeka.

Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 80 dan hari Ulang Tahun Provinsi Maluku ke 80 Tahun 2025 ini, menjadi peringatan penting akan perjuangan panjang para Pahlawan dalam merebut Kemerdekaan Indonesia dan para tokoh-tokoh Maluku yang telah banyak berkorban untuk mendu­kung Kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan penjajah  serta menjadikan Maluku bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Indonesia merupakan bangsa yang besar, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa Para Pahlawan, tidak melupakan sejarah dan terus optimis berupaya untuk mengisi kemerdekaan. Peringatan Prokla­masi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 80 dan Hari Ulang Tahun Provinsi Maluku ke 80 ini membuka peluang bagi Maluku  untuk mem­bangun negeri seribu pulau ini dengan kekuatan dan kemampuan kita sendiri serta mendorong inovasi serta kerja keras guna kontribusi nyata demi kemajuan dan kesejahteraan rakyat Maluku dan Indonesia, hal dibuktikan melalui berbagai upaya Putra-Putri Maluku dalam meraih berbagai mimpi, semisalnya Ibu Maya Baby Rampen Lewerissa istri Gubernur Maluku yang meraih Penghargaan Puspa Cita dalam program Anugerah Puspa Bangsa 2025, bukan hanya sekedar Prestasi,  Penghargaan ini menjadi langkah awal bagi Maluku untuk membawa perubahan signifikan di Maluku, sebagai salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan yang cukup tinggi di Indonesia, seperti yang disampaikan oleh Ibu Maya Baby Rampen Lewerissa “..Kami mau Maluku lebih baik, karena Maluku kan daerah miskin keempat….” Ibu Maya percaya bahwa salah satu langkah awal untuk mengangkat Maluku dari jurang kemiskinan adalah mencegah tengkes atau stunting, Stungting dan kemis­kinan memiliki korelasi yang cukup erat.  Anak yang mengalami stunting atau kekurangan gizi secara kronis tumbuh kembang­nya akan terganggu kata istri Gubernur Maluku ini.

Membangun Maluku harus dilakukan secara bersama-sama seluruh elemen masyarakat melalui peningkatan pembangu­nan dalam berbagai aspek baik ekonomi, sosial dan budaya, inovasi serta kreativitas semua anak bangsa.

Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan adanya rasa persatuan dan kesatuan serta menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Pancasila sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan berne­gara serta Bersatu dalam ikatan Pela Gandong.

Dengan menjaga persatuan dan kesatuan kita dapat mewujudkan falsafah hidup orang basudara yang telah diwariskan para leluhur seperti potong di kuku rasa di daging, sagu salempeng dipata dua, ain ni ain, kalwedo, dan masih banyak lagi kearifan lokal yang sangat berarti dan men­dukung pembangunan di Maluku.

Dirgahayu Provinsi Maluku ke 80, dengan semangat Siwalima katong Bangun Maluku karena Indonesia  Tanpa Maluku Bukanlah Indonesia. (Wellem Ririhatuela,SE.MM, Pengawas Pemerintah Ahli Madya Inspektorat Daerah Provinsi Maluku).

BERITA TERKAIT
Iklan Homepage 2
terpopuler
mobileapps