SIWALIMA.id > Berita
Malut United FC Temukan Bukti Pelanggaran, Imran dan Yeyen Dipecat
Headline , Olahraga | Selasa, 17 Juni 2025 pukul 23:08 WIT

AMBON, Siwalimanews – Imran Nahumarury, pe­latih kepala Malut United FC, dipecat lantaran terbukti melakukan pelang­garan berat.

Selain Imran, manaje­men Malut United FC juga mengambil langkah seru­pa terhadap Yeyen Tume­na Chaniago, yang sela­ma ini menjabat Direktur Tekhnik klub yang bermar­kas di Ternate itu.

Keduanya dipecat lan­tara­n pelanggaran yang dilakukan tidak dapat di­tolelir dan merugikan mana­jemen selama dua ta­hun terakhir.

Pemecatan keduanya dibenarkan langsung Dirk Soplanit, Direktur Utama PT Maluku Maju Sejahtera, yang menaungi Malut United FC, sebagaimana dilansir Siwalimanews, Senin (16/6).

Soplanit mengung­kap­kan, dari dua kompetisi terakhir memang capaian yang diperoleh Malut United sangat menggembirakan.

Artinya, kalau tidak ada masalah serius, tak mungkin manajemen me­mecat pelatih kepala dan direktur teknik,” kata Soplanit.

Sejak awal kompetisi Liga 2 kata Soplanit, sebe­narnya indikasi ini sudah ada dan telah diketahui oleh mana­jemen, tapi ada harapan minimal ke­dua­nya berubah dan tidak lagi me­ng­ulangi perbuatan yang melanggar hukum. Tapi ternyata kesempatan itu tidak diambil untuk memper­baiki diri, tapi malah bertambah parah.

“Dari situ Kami punya banyak bukti transaksi uang dari siapa ke siapa dan itu bagi kami sudah sangat tidak bisa ditolelir, maka opsinya hanya pemecatan karena kita tidak ingin manajemen rusak secara internal,” ungkap mantan Direktur Liga Indonesia Baru ini.

Soplanit mengungkapkan, ma­na­jemen tentu bersandar pada bukti yang diterima baik dari pe­main, asisten pelatih liga 2 hingga menemukan agen pemain asing di mana banyak bukti dan saksi bahwa ada uang yang diminta baik oleh pelatih kepala maupun direktur teknik.

Tak tanggung-tanggung jumlah uang yang didapatkan lumayan besar baik dari fee pemain asing maupun darinkontrak pemain lokal yang mengalir ke kantong pelatih kepala dan direktur teknik.

Soplanit mencontohkan untuk kontrak pemain asing terdapat fee agen yang ditentukan sebesar 10 persen, namun fee agen pemain asing tersebut justru diambil oleh direktur teknik. “Saya ambil contoh untuk kontrak pemain asing 1 miliar itu fee-nya 10 persen yakni 100 juta itu diambil direktur teknik dan se­lama ini Maluku United mengontrak 14 pemain asing dari liga 2 sampai liga 1 artinya semuanya diambil di­rektur teknik,” ujar Soplanit.

Alhasil ketika manajemen mem­bayar DP pemain sebesar 25 per­sen pasca penandatanganan kontrak, maka agen pemain asing la­ng­sung melakukan pemotongan fee 10 persen karena fee sebe­lumnya telah diambil oleh direktur, bahkan fee tersebut juga dibagi-bagi lagi ke kepala pelatih dan direktur teknik.

Sedangkan untuk pemain lokal liga 1 juga terdapat bukti transaksi adanya’ setoran mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta sampai puluhan juta yang diberikan oleh pemain kepada pelatih kepala dan direktur teknik.

“Dalam kasus ini bukan uang pe­main yang diambil. Jadi misal­nya pe­latih memanggil orang untuk dipa­kai selama satu musim oleh Malut United dengan kontrak Rp.100 juta, tapi mereka tambah lagi Rp.100 juta jadi ada Rp 200, nanti setelah kita manajemen membayar baru me­reka berdua ambil Rp 100 juta dan sisanya kepada pemain,” bebernya.

Dituturkan Soplanit, seluruh temuan tersebut, langsung diung­kap oleh para pemain yang selama ini menjadi korban, kepada manajemen tim. “Itu murni pengakuan mereka, tak ada rekayasa,” ujarnya.

Soplanit mengancam apabila keduanya masih membantah te­muan klub, maka manajemen akan melaporkan dan melimpahkan masalah ini ke polisi.

Melebihi Batas

Sementara itu, Wakil Manager Malut United FC, Asgar Saleh me­negaskan, pemecatan terhadap Imran dan Yeyen dilakukan karena langkah keduanya dianggap su­dah di luar batas.

Asgar menuturkan, ada juga kasus dimana keduanya meminta ratusan juta ke salah satu pemain, tapi diketahui oleh manajemen klub.

“Mereka kemudian mengirim balik uang tersebut, tetapi melalui pesan Whatsapp, si pemain di­minta untuk menyetor kembali uang itu ke mereka,” jelasnya.

Menurut Asgar, selama ini ma­najemen memberi kepercayaan penuh kepada keduanya untuk me­milih dan menentukan pemain.
"Tapi tak ada kemajuan, makanya manajemen berdiskusi dengan asis­ten pelatih agar memilih pe­main-pemain yang baik untuk membela Malut United,” im­buhnya.

Menurutnya pelanggaran yang dilakukan keduanya sudah termasuk dalam kejahatan yang ter­struk­tur, sistematis dan masif karena ada pola telah terjadi secara ber­ulang-ulang sejak Liga 2.

Asgar menegaskan, Malut Uni­ted yang kini sudah berusia 2 ta­hun dan orientasi manajemen bu­kan ke bisnis, sebab didasari bahwa profiling Malut United belum terlalu kuat artinya rata-rata ketika masuk ke wilayah bisnis maka sponsor butuh nama dan banyak hal.

“Jadi belum ada orientasi bisnis artinya dalam posisi seperti itu kita butuh orang-orang yang jujur dan punya integritas dan komitmen yang loyal untuk membesarkan tim ini bahwa nanti tim ini ketika sudah punya nama dan branding kita ba­gus, infrastruktur sudah siap tentu kita akan masuk ke wilayah bisnis makanya sangat disayangkan da­lam situasi seperti ini ada orang-orang yang berpikir hanya untuk mencari keuntungan pribadi lebih dari apa yang diterima,” kesalnya.

Terkait pengganti Nahumarury, As­gar memastikan manajemen telah berkomitmen akan menggu­nakan pelatih lokal karena berkom­petisi di Indonesia maka manaje­men ingin prestasi anak negeri diakui.

Kita akan menggunakan pelatih lokal, secara internal kita sudah bica­rakan dan akan kita umumkan pada akhir bulan Juli nanti. Jadi nanti namanya sekuat resmi maupun komposisi tim pelatih dan direktur secara bersamaan," tegasnya.

Sementara itu, hingga berita ini naik cetak, Imran Nahumarury belum bisa dimintai komentarnya. Dihubungi beberapa kali, telepon seluler mantan pemain nasional itu dalam keadaan tidak aktif.(S-20)

BERITA TERKAIT
Iklan Homepage 2
terpopuler
mobileapps