SIWALIMA.id > Berita
Nyaris Ricuh di Kantor Gubernur
Daerah | Rabu, 20 Mei 2026 pukul 16:26 WIT

AMBON, Siwalima.id - Demonstrasi yang dilakukan Aliansi Mahasiswa Perlawanan Pulau Buru (AMPPB) se-Kota Ambon di Kantor Gubernur Maluku, Selasa (19/5) nyaris ricuh.

Bagaimana tidak, aksi menuntut keadilan dan kepastian atas persoalan pengelolaan tambang di Gunung Botak yang dimulai sejak pukul 10.30 WIT ini, awalnya berjalan de­ngan aman dan tertib dengan penga­walan ketat aparat kepolisian dan Satpol Pamong Praja.

Demonstrasi dilakukan pada pintu Kantor Gubernur sebelah timur, massa aksi lang­sung melakukan orasi menyampaikan se­jumlah poin-poin penting yang melatar­belakangi aksi itu dilakukan.

Selang 20 menit kemudian massa aksi menuntut agar aparat kepolisian dan Satpol PP mengizinkan massa untuk masuk, dan melakukan aksi de­montrasi di depan lobi Kantor Gubernur, namun sayangnya tuntutan ini ditolak.

Penolakan terhadap tuntutan ini membuat massa aksi mulai panas dan akhirnya aksi saling dorong-mendorong dengan aparat ke­polisian dan Satpol PP tidak terhindarkan.

Koordinator lapangan, Asuat Lesnussa dalam orasinya mem­protes pemberlakuan SOP yang tidak seimbang, sebab dalam aksi demontrasi GMKI Cabang Ambon, Senin (18/5) kemarin justru diizin­kan melakukan demontrasi di depan lobi Kantor Gubernur.

“Ada apa sampai kita tidak diizinkan menyampaikan aspirasi di atas sana. Apa perbedaan kita dengan aksi demontrasi kemarin,” kecam Asuat.

Gelombang protes atas ketidak­adilan yang terus-menerus terjadi dan akhirnya kericuan tidak dapat dihindari, dan aksi pembakaran ban pun terjadi.

Lantaran aksi demontrasi tidak mendapatkan titik temu, massa aksi akhirnya bergeser menuju la­pangan Merdeka untuk melakukan aksi lanjutan dengan tuntutan agar Wakil Gubernur Abdullah Vanath hadir menemui massa aksi.

Kemarahan massa aksi me­muncak saat melihat mobil Wakil Gubernur meninggalkan Kantor Gubernur tanpa menggubris pe­nyampaian aspirasi yang sementara dilakukan.

Alhasil aksi pembakaran ban bekas pun terjadi di areal tribun lapangan Merdeka, sebagai bentuk protes dari sikap Wakil Gubernur yang menolak bertemu massa aksi.

Massa aksi juga menebang sejumlah tanaman hias didepan tribun dan merubah fasilitas tempat pemasaran spanduk yang berada disisi kiri lapangan merdeka.

Aksi demontrasi dan pembaka­ran ban bekas kemudian menjadi pa­nas dan ricuh saat personel Satpol PP berupaya memadam­kan api dan aksi saling dorong kembali terjadi.

Aksi demontrasi yang berlang­sung 2 jam lebih tersebut berakhir dengan kekecewaan lantaran wakil gubernur tidak kunjung menemui mereka dan mende­ngarkan aspi­rasi yang disampai­kan.(S-20)

BERITA TERKAIT