AMBON, Siwalima.id - Demonstrasi yang dilakukan Aliansi Mahasiswa Perlawanan Pulau Buru (AMPPB) se-Kota Ambon di Kantor Gubernur Maluku, Selasa (19/5) nyaris ricuh.
Bagaimana tidak, aksi menuntut keadilan dan kepastian atas persoalan pengelolaan tambang di Gunung Botak yang dimulai sejak pukul 10.30 WIT ini, awalnya berjalan dengan aman dan tertib dengan pengawalan ketat aparat kepolisian dan Satpol Pamong Praja.
Demonstrasi dilakukan pada pintu Kantor Gubernur sebelah timur, massa aksi langsung melakukan orasi menyampaikan sejumlah poin-poin penting yang melatarbelakangi aksi itu dilakukan.
Selang 20 menit kemudian massa aksi menuntut agar aparat kepolisian dan Satpol PP mengizinkan massa untuk masuk, dan melakukan aksi demontrasi di depan lobi Kantor Gubernur, namun sayangnya tuntutan ini ditolak.
Penolakan terhadap tuntutan ini membuat massa aksi mulai panas dan akhirnya aksi saling dorong-mendorong dengan aparat kepolisian dan Satpol PP tidak terhindarkan.
Koordinator lapangan, Asuat Lesnussa dalam orasinya memprotes pemberlakuan SOP yang tidak seimbang, sebab dalam aksi demontrasi GMKI Cabang Ambon, Senin (18/5) kemarin justru diizinkan melakukan demontrasi di depan lobi Kantor Gubernur.
“Ada apa sampai kita tidak diizinkan menyampaikan aspirasi di atas sana. Apa perbedaan kita dengan aksi demontrasi kemarin,” kecam Asuat.
Gelombang protes atas ketidakadilan yang terus-menerus terjadi dan akhirnya kericuan tidak dapat dihindari, dan aksi pembakaran ban pun terjadi.
Lantaran aksi demontrasi tidak mendapatkan titik temu, massa aksi akhirnya bergeser menuju lapangan Merdeka untuk melakukan aksi lanjutan dengan tuntutan agar Wakil Gubernur Abdullah Vanath hadir menemui massa aksi.
Kemarahan massa aksi memuncak saat melihat mobil Wakil Gubernur meninggalkan Kantor Gubernur tanpa menggubris penyampaian aspirasi yang sementara dilakukan.
Alhasil aksi pembakaran ban bekas pun terjadi di areal tribun lapangan Merdeka, sebagai bentuk protes dari sikap Wakil Gubernur yang menolak bertemu massa aksi.
Massa aksi juga menebang sejumlah tanaman hias didepan tribun dan merubah fasilitas tempat pemasaran spanduk yang berada disisi kiri lapangan merdeka.
Aksi demontrasi dan pembakaran ban bekas kemudian menjadi panas dan ricuh saat personel Satpol PP berupaya memadamkan api dan aksi saling dorong kembali terjadi.
Aksi demontrasi yang berlangsung 2 jam lebih tersebut berakhir dengan kekecewaan lantaran wakil gubernur tidak kunjung menemui mereka dan mendengarkan aspirasi yang disampaikan.(S-20)