AMBON, Siwalimanews – Pemerintah Provinsi Maluku dalam usulan Rancangan APBD Perubahan 2025 mengalami penurunan, dimana dalam APBD murni sebesar Rp3,247 triliun tuÂrun menÂjadi Rp2, 978 triliun atau terÂkoÂreksi 8,30 persen.
SemenÂtara untuk belanja daerah, juga ikut terkoreksi dari Rp3,136 triliun menjadi Rp2,846 triliun atau turun 9,22 persen. Sementara pembiayaan daerah, diÂmana penerimaan turun tajam dari Rp25 miliar menjadi Rp5,462 miliar berÂdasarkan hasil audit BPK, semenÂtara pengeluaran pembiayaan tetap pada angka Rp136,672 miliar.
Perubahan tersebut menghasilÂkan surplus anggaran sebesar Rp131,209 miliar, yang diproyekÂsikan menutup defisit pembiayaan netto pada angka yang sama, sehiÂngga Sisa Lebih Pembiayaan AngÂgaran (SiLPA) 2025 menjadi nihil.
âBesar harapan kami agar ranÂperda ini dapat segera dibahas dan disetujui bersama. Kami juga memberikan apresiasi kepada pimpinan dan anggota dewan atas perhatian serta kontribusi pemikiÂran yang akan diberikan dalam pemÂbahasan nantinya,â ucap Sekda saat menyampaikan Nota Keuangan serta Ranperda tentang Perubahan APBD Maluku tahun anggaran 2025 dalam rapat pariÂpurna yang dipimpin Wakil Ketua Abdullah Asis Sangkala didamÂpingi Wakil Ketua lainnya Rahwarin di Baileo Rakyat, Karang Panjang, Jumat (26/9).
Sadli menjelaskan, penyusunan Ranperda Perubahan APBD 2025 ini, berpedoman pada PermenÂdagri Nomor: 15 tahun 2024 tenÂtang Pedoman Penyusunan APBD 2025, RPJMD Maluku 2025â2029, perubahan RKPD, serta nota keseÂpakatan antara Pemprov dan DPRD terkait kebijakan umum perubahan anggaran, prioritas, dan plafon anggaran sementara.
âRancangan ini disusun dengan perkiraan penerimaan yang lebih realistis dan hati-hati. PertimbaÂngan perubahan ini antara lain reaÂlisasi pendapatan semester perÂtama, adanya kegiatan mendesak, penyesuaian kebijakan daerah terhadap target yang ditetapkan, serta koreksi saldo anggaran lebih tahun sebelumnya,â jelas Sadali dalam paripurna Ranperda PeruÂbahan APBD Maluku tahun 2025.
Ditempat yang sama anggota DPRD dari Fraksi PDI Perjuangan, Alhidayat Wajo dalam paripurna itu menegaskan, penurunan pendaÂpaÂtan 8,30 persen dinilai, turunnya pendapatan menunjukkan, bahwa pos-pos penyumbang PAD tidak dikelola secara optimal.
âTurunnya PAD ini harus jadi catatan serius. Minimal capaian PAD harus berada di kisaran 50 persen, jangan sampai terus menurun. Pemda juga harus kerja lebih keras untuk mengejar target agar PAD kembali meningkat,â tegas Alhidayat.
Pertumbuhan Ekonomi Lambat
Sementara itu, pertumbuhan ekoÂnomi Provinsi Maluku pada kuartal II tahun 2025 hanya 3.39 perÂsen atau melambat jika dibanÂding kuartal pertama.
Pasalnya, pertumbuhan ekonoÂmi Maluku pada kuartal I sebesar 5.07 persen atau tumbuh diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 4,87 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistiik Maluku dijelaskan, caÂpaian pertumbuhan ekonomi kuarÂtal II yang lambat ini, menemÂpatkan Maluku berada di posisi ke 33 dari 38 provinsi di Indonesia atau diÂbawah Provinsi Papua dengan perÂtumbuhan ekonomi sebesar 3.55.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku pada kuartal II ini diduga disebabkan miÂnimnya belanja pemerintah daerah yang berdampak pada jumlah uang beredar ditengah masyarakat.
Sumber Siwalima di lingkungan BPKAD Maluku menyebutkan, sampai saat ini realisasi belanja pemerintah provinsi baru mencapai Rp1.48 triliun dari postur belanja daerah yang ditetapkan dalam APBD murni 2025 sebesar Rp3,136 triliun atau baru 47 persen.
Realisasi belanja daerah terÂsebut tentu masih minim, mengÂingat tahun anggaran 2025 hanya tersisa tiga bulan, artinya jika belanja daerah tidak digenjot, maka dipastikan pertumbuhan ekonomi tidak akan meningkat.
âBelanja kita baru Rp1.48 triliun dan ini sangat minim sebenarnya kaÂrena belum mencapai 50 persen. Bagaimana pertumbuhan ekonomi akan menggeliat kalau belanja daeÂrah minim seperti ini,â ucap sumber tersebut yang meminta namanya tidak dikorankan, Sabtu (27/9).
Menurutnya, pertumbuhan ekoÂnomi Maluku saat ini masih berÂtumpuh pada belanja dari pemeÂrintah, baik melalui proyek-proyek maupun belanja operasi seperti pembayaran gaji ASN.
Sementara disisi lain, masih ada begitu banyak proyek pemeÂrintah yang belum ditenderkan sampai dengan saat ini, ditambah lagi dengan penyelesaian hak-hak ASN seperti TPP yang berjalan lambat.
âMemang proyek yang tersisa itu tidak besar-besar tapi kalau dijumÂlahkan itu cukup banyak dan kalau ini didorong agar dipercepat, maka akan berdampak pada beredarnya uang yang cukup ditengah masÂyaraÂkat dan ekonomi akan menggeliat disitu,â jelas sumber itu.
Sumber ini mengaku, dalam perubahan APBD 2025 terjadi raÂsional dari postur belanja, namun jika kinerja BPKAD seperti ini yang lambat dalam mendorong belanja pemerintah, maka diprediksi pertumbuhan ekonomi akan tetap melambat pada kuartal III atau akhir tahun mendatang.
Karenanya ia berharap Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dapat mengevaluasi kinerja BPKAD, sehingga dapat mendorong perceÂpatan belanja pemerintah sesuai yang telah dianggarkan.(S-21/S-20)