AMBON, Siwalimanews – Sebanyak 500 paket bantuan sosial disalurkan oleh PemeÂrinÂtah Provinsi Maluku kepada warÂga Hunuth yang masih menemÂpati tempat pengungsian.
Penyaluran bantuan ini meÂnurut Kepala Dinas Sosial MaÂluku Abdulrahim Marotei sebagai bantuk kehadiran pemerintah provinsi kepada masyarakat yang menjadi korban insiden pembakaran puluhan rumah di Desa Hunuth oleh kelompok masÂyarakat dari Desa Hitu, Selasa (19/8) kemarin.
âPasca kunjungan gubernur ke lokasi pengungsian, kami langsung distribusikan bantuan kepada warga Hunuth dan banÂtuan itu diterima oleh Pemerintah Negeri Hunuth,â ungkap Marotei kepada Siwalima melalui teleÂpon selulernya, Kamis (21/8).
Ia merincikan, 50 paket banÂtuan yang disalurkan tersebut terdiri dari, makanan siap saji 200 paket, makanan anak 100 paket, lauk pauk siap saji 200 paket, tenda gulung 10 unit, kasur 50 lembar, kids ware 50 paket, selimut 100 lembar.
Selain itu pakaian seragam SD untuk pria 5 pasang dan peremÂpuan 4 pasang, seragam SMP pria 7 pasang dan perempuan 5 pasang, seragam SMU pria 6 pasang dan perempuan 2 pasang, sawer kit 30 pasang, tas sekolah 30, daster 20 pasang dan pakaian anak 10 pasang.
âJadi bantuan sosial yang kita salurkan itu berjmlah 500 paket sesuai dengan kebutuhan masyaÂrakat Hunuth ditempat pengungÂsian,â jelas Marotei.
Marotei juga memastikan, akan terus berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Ambon, untuk mengeÂtahui kebutuhan masyarakat di tempat pengungsian dapat terÂpenuhi sesuai arahan gubernur.
Sedangkan a terkait dengan penanganan trauma healing pasca insiden itu, pihaknya sejak kemarin telah menurunkan para dokter dan psikolog guna memberikan pemuÂlihan psikologis kepada para korÂban, khususnya anak dan peremÂpuan pasca pengalaman traumatis tersebut.
âKita terus pantau kondisi para pengungsi untuk pastikan kebuÂtuhan pengungsi terlayani dengan baik,â janji Marotei
Ingin Keadilan dan Rasa Aman
Warga Desa Hunuth yang menjadi korban, ingin kembali, namun masih trauma. Bahkan ada yang belum bisa kembali, lantaran tempat tinggal mereka hanya tinggal puing-puing, sehingga membuat mereka terpaksa tinggal di pengungsian.
Warga Hunuth mengaku, meskiÂpun pelaku penikaman telah ditangkap pihak kepolisian, namun hal itu belum cukup bagi mereka, karena para pelaku penyerangan dan pembakaran rumah warga belum ditangkap.
Semy warga Hunuth yang ikut mengungsi lantaran rumahnya terbakar kepada Siwalima di lokasi pengungsian, mengaku ingin kembali, namun rasa aman menÂjadi faktor utama. âTentu kami ingin kembali tapi apa daya? Rasa trauma masih menghantui. Yang utama itu kareÂna rumah-rumah kami terbakar,â ucap Semi.
Selain itu, kata Semi, anak-anak saat ini juga tidak bisa bersekolah lantaran buku, seragam dan keÂperluan sekolah mereka ikut terbakar saat kejadian.
âAnak-anak belum bisa sekolah akibat dari kejadian itu. Untuk saat ini kami hanya bisa berharap dari pemerintah,â tutur Semi.
Warga Hunuth menginginkan, agar ada langkah tertentu yang diÂlakukan oleh pemerintah, sehiÂngga kejadian serupa tidak terjadi lagi.
âSaya seng (tidak) tahu mau bilang apa lagi. Karena orang lain pung perbuatan, kami yang terkena dampak. Kami hanya ingin ada keadilan. Itu saja,â tandas Semi.
Ia berharap, pihak kepolisian bisa berupaya maksimal mungkin, sehiÂngga para pelaku pembakaran ruÂmah segera ditangkap. Karena jika dibiarkan, maka tentu para pelaku bisa berpikir jika mereka kebal terÂhadap hukum dan dapat melakukan aksi serupa terhadap orang lain.
âCuma beberapa hal yang kami inginkan yaitu keadilan dan rasa aman. Soal rumah yang terbakar pemerintah sudah janji akan bangun dan kami berharap dan percaya pak walikota akan bantu bangun rumah kami. Tapi keadilan dan rasa aman itu yang paling penting bagi kami,â ucap Semi.
Bantuan Stimulan
Terpisah Kepala Dinas Sosial Kota Ambon Imelda Tahalele mengungkapkan, Dinsos nantinya akan memberikan bantuan stimuÂlan kepada para korban yang rumahnya terbakar.
âUntuk 17 rumah yang terbakar sesuai data yang kami terima dari Kantor Desa Hunuth, pasti akan diberikan bantuan dana untuk perbaikan sesuai arahan dari pak walikota, â ungkap Tahalele.
Bantuan stimulan itu kata TahaÂlele, akan diberikan setelah pemÂberian bantuan makanan selesai disalurkan.
Untuk rumah terbakar berjumlah 17 unit masing-masing milik KeÂluarga Jefri Tahalea, Keluarga, Syane Kappuw, Keluarga Titus Hatulely, Keluarga Ibu Charlota Tohatta/Siahaya, Keluarga Victor Siahaya, Keluarga Semuel Samsu, Keluarga Regdenier Tahalea, Yohanis Matahelumual, Keluarga Anthoni Pattipeiluhu , Keluarga AleÂka Nikijuluw, Keluarga Hely TahaÂlea, Keluarga Fery Ohelo, Kelaurga Nus Patty, Keluarga Bili Tahalea, Keluarga Referson Kappuw, KeÂluarga Patipeilohy serta Balai Pertemuan Kantor Desa
Sementara rumah dan tempat usaha yang rusak masing-masing milik Chris Pier Kappuw (kios), Venno Siahaya (kios), Dian Nusaly (tempat foto copy), Simon MalaÂkauseya (rumah), Adrian LumaÂlessy (pertamini) , Rifaldi (rumah), Jalil Kaimudin (mebel dan kios), Mario Lubis (rumah), Rudi MahuÂlette (kios), Sherlie Maruanaya ( kios), Mathelda Sondakh (rumah), Reince Rikumahu (Pangkas RamÂbut) dan Novie Siahaya (rumah).
Human Healing
Sementara itu, Polwan Polresta Pulau Ambon mememberikan human healing bagi anak-anak Desa Hunuth di tempat pengungsian yang berada di Desa Poka dan Nania, Kamis (21/8)
Wakil Kepala Satuan Binmas Polresta Pulau Ambon Iptu Neila Salatalohy menjelaskan, kegiatan human healing ini dilakukan sebaÂgai bentuk kepedulian terhadap anak-anak yang terdampak kejaÂdian kebakaran akibat bentrok agar mereka tidak mengalami trauma.
âKegiatan ini dilaksanakan pasÂca kejadian kebakaran dua hari yang lalu. Harapan kami ialah lewat kegiatan ini, trauma anak-anak bisa berangsur-angsur menghiÂlang,â ujar Iptu Neila.
Saat healing itu kata Iptu Neila, dilakukan beberapa aktivitas atau intraksi antara Polwan dengan anak-anak yang berada di lokasi pengungsian.
Selain interaksi dengan anak-anak, Polwan juga memberikan maÂkanan ringan bagi anak-anak serÂta memberikan dukungan moral.
âKami berharap, apa yang dilakuÂkan bisa membantu anak-anak melupakan kejadian traumatis dan membantu mereka membangun interaksi positif, sehingga bisa beraktivitas lagi seperti sebelumÂnya,â harap Iptu Neila.(S-29/S-20)