SIWALIMA.id > Berita
Pemprov Salurkan 500 Paket Bansos bagi Pengungsi Hunuth
Daerah , Headline | Jumat, 22 Agustus 2025 pukul 23:57 WIT

AMBON, Siwalimanews – Sebanyak 500 paket bantuan sosial disalurkan oleh Peme­rin­tah Provinsi Maluku kepada war­ga Hunuth yang masih menem­pati tempat pengungsian.

Penyaluran bantuan ini me­nurut Kepala Dinas Sosial Ma­luku Abdulrahim Marotei sebagai bantuk kehadiran pemerintah provinsi kepada masyarakat yang menjadi korban insiden pembakaran puluhan rumah di Desa Hunuth oleh kelompok mas­yarakat dari Desa Hitu, Selasa (19/8) kemarin.

“Pasca kunjungan gubernur ke lokasi pengungsian, kami langsung distribusikan bantuan kepada warga Hunuth dan ban­tuan itu diterima oleh Pemerintah Negeri Hunuth,” ungkap Marotei kepada Siwalima melalui tele­pon selulernya, Kamis (21/8).

Ia merincikan, 50 paket ban­tuan yang disalurkan tersebut terdiri dari, makanan siap saji 200 paket, makanan anak 100 paket, lauk pauk siap saji 200 paket, tenda gulung 10 unit, kasur 50 lembar, kids ware 50 paket, selimut 100 lembar.

Selain itu pakaian seragam SD untuk pria 5 pasang dan perem­puan 4 pasang, seragam SMP pria 7 pasang dan perempuan 5 pasang, seragam SMU pria 6 pasang dan perempuan 2 pasang, sawer kit 30 pasang, tas sekolah 30, daster 20 pasang dan pakaian anak 10 pasang.

“Jadi bantuan sosial yang kita salurkan itu berjmlah 500 paket sesuai dengan kebutuhan masya­rakat Hunuth ditempat pengung­sian,” jelas Marotei.

Marotei juga memastikan, akan terus berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Ambon, untuk menge­tahui kebutuhan masyarakat di tempat pengungsian dapat ter­penuhi sesuai arahan gubernur.

Sedangkan a terkait dengan penanganan trauma healing pasca insiden itu, pihaknya sejak kemarin telah menurunkan para dokter dan psikolog guna memberikan pemu­lihan psikologis kepada para kor­ban, khususnya anak dan perem­puan pasca pengalaman traumatis tersebut.

“Kita terus pantau kondisi para pengungsi untuk pastikan kebu­tuhan pengungsi terlayani dengan baik,” janji Marotei

Ingin Keadilan dan Rasa Aman

Warga Desa Hunuth yang menjadi korban, ingin kembali, namun masih trauma. Bahkan ada yang belum bisa kembali, lantaran tempat tinggal mereka hanya tinggal puing-puing, sehingga membuat mereka terpaksa tinggal di pengungsian.

Warga Hunuth mengaku, meski­pun pelaku penikaman telah ditangkap pihak kepolisian, namun hal itu belum cukup bagi mereka, karena para pelaku penyerangan dan pembakaran rumah warga belum ditangkap.

Semy warga Hunuth yang ikut mengungsi lantaran rumahnya terbakar kepada Siwalima di lokasi pengungsian, mengaku ingin kembali, namun rasa aman men­jadi faktor utama. “Tentu kami ingin kembali tapi apa daya? Rasa trauma masih menghantui. Yang utama itu kare­na rumah-rumah kami terbakar,” ucap Semi.

Selain itu, kata Semi, anak-anak saat ini juga tidak bisa bersekolah lantaran buku, seragam dan ke­perluan sekolah mereka ikut terbakar saat kejadian.

“Anak-anak belum bisa sekolah akibat dari kejadian itu. Untuk saat ini kami hanya bisa berharap dari pemerintah,” tutur Semi.

Warga Hunuth menginginkan, agar ada langkah tertentu yang di­lakukan oleh pemerintah, sehi­ngga kejadian serupa tidak terjadi lagi.

“Saya seng (tidak) tahu mau bilang apa lagi. Karena orang lain pung perbuatan, kami yang terkena dampak. Kami hanya ingin ada keadilan. Itu saja,” tandas Semi.

Ia berharap, pihak kepolisian bisa berupaya maksimal mungkin, sehi­ngga para pelaku pembakaran ru­mah segera ditangkap. Karena jika dibiarkan, maka tentu para pelaku bisa berpikir jika mereka kebal ter­hadap hukum dan dapat melakukan aksi serupa terhadap orang lain.

“Cuma beberapa hal yang kami inginkan yaitu keadilan dan rasa aman. Soal rumah yang terbakar pemerintah sudah janji akan bangun dan kami berharap dan percaya pak walikota akan bantu bangun rumah kami. Tapi keadilan dan rasa aman itu yang paling penting bagi kami,” ucap Semi.

Bantuan Stimulan

Terpisah Kepala Dinas Sosial Kota Ambon Imelda Tahalele mengungkapkan, Dinsos nantinya akan memberikan bantuan stimu­lan kepada para korban yang rumahnya terbakar.

“Untuk 17 rumah yang terbakar sesuai data yang kami terima dari Kantor Desa Hunuth, pasti akan diberikan bantuan dana untuk perbaikan sesuai arahan dari pak walikota, “ ungkap Tahalele.

Bantuan stimulan itu kata Taha­lele, akan diberikan setelah pem­berian bantuan makanan selesai disalurkan.

Untuk rumah terbakar berjumlah 17 unit masing-masing milik Ke­luarga Jefri Tahalea, Keluarga, Syane Kappuw, Keluarga Titus Hatulely, Keluarga Ibu Charlota Tohatta/Siahaya, Keluarga Victor Siahaya, Keluarga  Semuel Samsu, Keluarga  Regdenier Tahalea, Yohanis Matahelumual, Keluarga Anthoni Pattipeiluhu , Keluarga Ale­ka Nikijuluw, Keluarga Hely Taha­lea, Keluarga Fery Ohelo, Kelaurga Nus Patty, Keluarga Bili Tahalea, Keluarga Referson Kappuw, Ke­luarga Patipeilohy serta Balai Pertemuan Kantor Desa

Sementara rumah dan tempat usaha yang rusak masing-masing milik Chris Pier Kappuw (kios), Venno Siahaya (kios), Dian Nusaly (tempat foto copy), Simon Mala­kauseya (rumah), Adrian Luma­lessy (pertamini) , Rifaldi (rumah), Jalil Kaimudin (mebel dan kios), Mario Lubis (rumah), Rudi Mahu­lette (kios), Sherlie Maruanaya ( kios), Mathelda Sondakh (rumah), Reince Rikumahu (Pangkas Ram­but) dan  Novie Siahaya (rumah).

Human Healing

Sementara itu, Polwan Polresta Pulau Ambon mememberikan human healing bagi anak-anak Desa Hunuth di tempat pengungsian yang berada di Desa Poka dan Nania, Kamis (21/8)

Wakil Kepala Satuan Binmas Polresta Pulau Ambon Iptu Neila Salatalohy menjelaskan, kegiatan human healing ini dilakukan seba­gai bentuk kepedulian terhadap anak-anak yang terdampak keja­dian kebakaran akibat bentrok agar mereka tidak mengalami trauma.

“Kegiatan ini dilaksanakan pas­ca kejadian kebakaran dua hari yang lalu. Harapan kami ialah lewat kegiatan ini, trauma anak-anak bisa berangsur-angsur menghi­lang,” ujar Iptu Neila.

Saat healing itu kata Iptu Neila, dilakukan beberapa aktivitas atau intraksi antara Polwan dengan anak-anak yang berada di lokasi pengungsian.

Selain interaksi dengan anak-anak, Polwan juga memberikan ma­kanan ringan bagi anak-anak ser­ta memberikan dukungan moral.

“Kami berharap, apa yang dilaku­kan bisa membantu anak-anak melupakan kejadian traumatis dan membantu mereka membangun interaksi positif, sehingga bisa beraktivitas lagi seperti sebelum­nya,” harap Iptu Neila.(S-29/S-20)

BERITA TERKAIT
Iklan Homepage 2
terpopuler
mobileapps