DOBO, Siwalima.id - Pasca bentrok antara Desa Longgar dan Apara hingga kini belum kondusif, warga kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Guna mengantisipasi terjadinya bentrok susulan antar dua desa bertetangga tersebut, aparat keamanan masih disiagakan di lokasi kejadian.
Kondisi ini membuat warga kesulitan sehingga pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru bersama pemerintah provinsi turun tangan.
“Bantuan sudah disalurkan. Sampai hari ini sudah 6 ton lebih dari pemerintah provinsi di tambah dengan dari Pemda kepulauan Aru,” terang Kadis Sosial Tonji Koljaan kepada wartawan, Sabtu (31/) di Dobo.
Ia juga memastikan seluruh kebutuhan pokok masyarakat pasca bentrok sejak awal Januari kemarin terpenuhi.
“Untuk beras yang kita distribusikan ke dua desa. Selain kebutuhan pokok (makanan), kebutuhan lainnya seperti pakaian layak pakai juga kita distribusikan ke dua desa,” ungkapnya.
Dikatakan, dalam pembagian bantuan tersebut terjadi keberatan atau komplain khususnya dari pemuda dari dua desa yang bertikai.
Namun, pihak dinas sudah memberikan penjelasan kepada para pemuda dan mereka pun mengerti.
Mengantisipasi semua kemungkinan yang tidak diinginkan bersama, dinas terus berkoordinasi dengan pihak pemerintah desa, tokoh agama maupun tokoh adat.
Selain itu, aktivitas persekolahan dan pelayanan kesehatan di dua desa bertikai pun diakui belum berjalan dengan lancar. Sekolah dan puskesmas ada di Desa Longgar.
“Anak-anak dari desa Apara juga belum bisa pergi sekolah seperti sebelumnya, begitu pun pelayanan kesehatan,” jelasnya.
Perlu diketahui juga, kedua desa ini hanya dibatasi oleh gereja GPM yang selama ini digunakan jemaat kedua desa ini beribadah. Pada perjamuan Minggu (4/1), terpaksa masing-masing jemaat mengikuti ibadah perjamuan masing-masing desa. Beruntung di jemaat tersebut ada dua pendeta (suami-istri).
Istri memimpin ibadah perjamuan di Desa Apara sedangkan suaminya memimpin di desa Longgar.(S-11)