AMBON, Siwalima.id - Gempa bumi dengan magnitudo (M) 6,8 kembali mengguncang Laut Banda, Selasa (28/10) malam.
Berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan, gempa yang terjadi pada pukul 23.40 WIT, dengan episenter di laut, tepatnya di koordinat 6,92° Lintang Selatan dan 130,08° Bujur Timur, sekitar 179 kilometer barat laut Tanimbar pada kedalaman 168 kilometer.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat aktivitas deformasi batuan dalam slab Lempeng Banda.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan, bahwa gempa memiliki mekanisme pergerakan mendatar-turun (oblique normal fault),” jelas Daryono dalam rilisnya yang diterima redaksi Siwalima, Rabu (28/10) malam.
Guncangan gempa ini lanjut Daryono, dirasakan cukup kuat di beberapa wilayah di Maluku hingga Papua Barat.
BMKG mencatat, getaran dengan intensitas IV MMI dirasakan di Kota Saumlaki, Kabupaten Tanimbar, gempa ini dirasakan banyak orang di dalam rumah.
Guncangan juga dirasakan di Kota Tual, Tepa, Sorong, Kaimana, Manokwari, Maybrat, Raja Ampat, Sorong Selatan, dan Teluk Bintuni III MMI. Sedangkan di Fak-Fak, Dobo, Deiyai, dan Dogiyai, direasakan II-III MMI, sedangkan di Nabire dan Enarotali tercatat intensitas gempa dirasakan II MMI.
“Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan bangunan atau adanya korban akibat gempa tersebut,” tulis Daryono dalam rilis itu.
BMKG juga memastikan, bahwa hingga pukul 22.15 WIB atau 00.15 WIT, tidak terdeteksi adanya aktivitas gempa susulan atau aftershock, di wilayah tersebut.
Walaupun demikian, ia menghimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat juga diminta untuk memastikan kondisi bangunan rumah aman dari kerusakan akibat gempa, sebelum kembali masuk ke dalam rumah,” himbau Daryono. (S-25)