SIWALIMA.id > Berita
Kasus Korupsi Air Bersih Siwang Naik Penyidikan
Headline , Hukum | Jumat, 1 Agustus 2025 pukul 00:07 WIT

AMBON, Siwalimanews – Setelah melakukan serangkaian penyelidikan, akhirnya penyidik Ditreskrimsus Polda Maluku menaikan kasus dugaan korupsi proyek air bersih Dusun Siwang, Kecamatan Nusaniwe, ke tahap penyidikan.

Pening­katan dua paket pro­yek air ber­sih ini tingkatkan ke penyidikan setelah, penyidik mengum­pulkan bahan keterangan dan ditemukan bukti yang cukup untuk ditingkatkan ke penyidikan.

Demikian diungkapkan, Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Rosita Umasugi melalui Kasubag Pen­mas AKP Imelda Hau­rissa kepada Siwalima mela­lui pesan Whats­App, Rabu (30/7).

“Untuk air bersih cuma yang di Siwang itu yang ditangani Dit­res­krimsus Polda Maluku. Kasusnya minggu kemarin telah naik ke ta­hap penyidikan,” kata Kabid.

Seperti diberitakan, dua proyek air bersih milik Dinas PU Maluku bernilai jumbo tahun 2021 di lokasi Alinong, Dusun Siwang, Gunung Nona mubasir dan tidak dinikmati masyarakat.

Proyek air bersih yang pertama bersumber dari APBD Tahun 2021 sebesar Rp1.200.000.000 di Lo­kasi Alinong Dusun Siwang.

Selanjutnya pada lokasi yang sama dibangun proyek air bersih bernilai Rp4.974.000.000 tahun 2021 bersumber dari Dana Pinja­man PT Sarana Multi Infrastruktur.

Proyek air bersih gagal total ini dikeluhkan warga peduli proyek pemerintah melalui surat terbuka yang disampaikan kepada Kepala Dinas PU Maluku tembusannya disampaikan kepada, Presiden RI, Prabowo Subianto, Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, KPK, BPK, Kejaksaan Tinggi Maluku, Ke­po­lisian Daerah Maluku, DPRD Ma­luku, dan Kejaksaan Negeri Ambon.

Dalam surat terbuka yang dite­rima Siwalima, Minggu (29/12) lalu  warga peduli proyek pemerintah yang bermukim di Gunung Nona ini mengungkapkan, sejak Indonesia merdeka hingga kini, warga tidak pernah menikmati yang namanya air bersih bantuan dari Pemerintah Daerah.

“Pemerintah daerah tahu bahwa kawasan Gunung Nona adalah kawasan yang susah akan air ber­sih, namun seolah-olah Pemerin­tah Daerah menutup mata terha­dap kami,” ujar warga.

Katanya, kawasan tersebut umumnya adalah masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah yang diperkirkan sekitar 75% dan sisanya adalah Pegawai Negeri maupun swasta serta pensiunan.

Memiliki tingkat ekonomi seperti demikian, tentunya warga sangat me­ngharapkan bantuan dari Pe­me­rintah Daerah terlebih khusus bantuan akan air bersih, meng­ingat untuk mendapatkan air ber­sih, mereka harus mengeluarkan dana minimal Rp 200.000 untuk membeli air bersih hanya satu mobil tanki. yang penggunaannya hanya seminggu sehingga untuk mencu­kupi kebutuhan akan air bersih dalam sebulan, mereka ha­rus me­ng­eluarkan dana Rp 600.000 hingga Rp1.000.000 tiap bulan hanya untuk mendapatkan air bersih.

Belum lagi listrik, biaya anak sekolah, makan dan minum tiap hari dan lain-lain. Hal ini tentu sangat memprihtinkan.

Kata warga, kedua proyek de­ngan dana jumbo tersebut hingga kini tidak satupun dinikmati oleh masyarakat.

“Perlu digaris bawahi juga bahwa kedua proyek dengan dana jumbo tersebut berada pada satu lokasi yang sama yakni lokasi Alinong Dusun Siwang. Hal ini yang membuat kami warga mas­yarakat yang berpendidikan rendah ini bertanya-tanya, Pemerintah kerja apa saja? Pemerintah tahu kerja atau tidak? Ataukah ada persaingan antar proyek pekerjaan dengan dana yang berasal dari APBD dan proyek pekerjaan yang dananya berasal dari dana SMI?,” tanya warga

Pantas sudah tiga tahun kerja, masyarakat tidak menikmati air setetepun alias Proyek Gagal Total. “Hemat kami, jika sudah ada satu program di satu lokasi, program yang sama harus dialihkan ke lokasi lain karena tentu mas­yarakat dilokasi lain juga sangat mem­butuhkan,” ujar warga.

Alhasil warga peduli ini menyam­paikan surat terbuka yang ditujukan kepada Kadis PU Maluku kala itu, Ismail Usemahu dan meminta agar kadis bisa meninjau kembali dua mega proyek yang merugikan negara Rp6 miliar lebih itu.

“Kemudian kami menghimbau kepada pihak terkait agar segera mengusut tuntas proyek gagal tersebut karena sejak tahun 2021 hingga kini kontraktor hanya me­na­nam pipa kosong yang meng­akibatkan pekarangan rumah serta jalanan kami rusak,” kesal mereka.

Telah Diserahkan

Sementara Kepala Bidang Cipta Karya pada Dinas PUPR Maluku, Nur Mardas mengungkapkan, pe­kerjaan air bersih yang dilakukan de­ngan menggunakan dana SMI mau­pun APBD telah berfungsi dan dise­rah­kan kepada masyarakat se­tempat.

Dijelaskan, proyek yang meng­habiskan 6 miliar lebih tersebut dalam perencanaan, memang menggunakan solar cell, sehingga membutuhkan sinar matahari.

“Air bersih di Siwang ini kan sejak awal menggunakan solar cell yang tergantung dengan cuaca karena dalam panel surya itu tidak menggunakan baterai penyimpan dan hingga dua tahun pasca pe­kerjaan air berjalan normal,” ujar Mardas kepada Siwalima melalui te­lepon selulernya, Kamis (9/1) lalu.

Namun seiring berjalannya waktu kata Mardas, surya solar cell ini jebol sebanyak empat kali akibat cuaca buruk yang menye­babkan hujan dan petir, makanya pengelola khawatir jika dinyalakan ulang dengan cuaca yang tidak stabil dapat berbahaya.

Apalagi, untuk mengisi reservoir dengan kapasitas 100 kubik air tersebut jika sinar matahari baik, mem­butuh­kan waktu dua hari, barulah didistribusi kepada masyarakat setempat yang jumlahnya sangat banyak.

Dinas PUPR juga telah meng­ambil langkah dengan pemasa­ngan panel listrik PLN untuk mengantisipasi cuaca yang tidak stabil dan itu telah dilakukan PLN.

“Pemasangan panel listrik sudah dilakukan cuma yang jadi masalah PLN belum berani meng­koneksikan jaringan listrik lagi, karena membutuhkan tiang penya­ngga kabel listrik yang kurang lebih ada 20 buah itu,” bebernya.

PLN akui, Mardas tidak mau me­ngambil resiko sebab ditakutkan akan berbahaya bagi masyarakat jika tidak menggunakan tiang penyangga kabel listrik, apalagi kabel listrik tersebut berjalan di tengah hutan.

Di sisi lain, Dinas PUPR Maluku terkendala dengan anggaran pemasangan 20 tiang yang sangat besar sehingga masih dikomuni­kasikan dengan pihak PLN sampai dengan saat ini.

“Untuk pasangan 20 tiang penyangga kabel listrik ini kan juga butuh biaya. Tahun lalu memang ada alokasi anggaran 180 juta tapi difokuskan pada penambahan jaringan air,” jelasnya.

Lanjutnya jika panel listrik terpasang maka air bersih Dusun Siwang tersebut sudah dapat di­operasikan ulang dengan meng­uras terlebih dahulu sumur akibat dari endapan sendimen yang ada.

“Panel ini dimatikan dalam du­rasi waktu cukup lama dan untuk menghidupkan kembali pasti sudah ada sedimen dan endapan sehingga butuh tenaga listrik untuk menghidupkan artinya untuk me­nguras kembali sumur itu dengan tenaga listrik cukup besar jika se­dang berupaya untuk bagaimana ada penambahan anggaran untuk pemasangan 20 tiang penyangga itu,” tegasnya. (S-25)

BERITA TERKAIT
Iklan Homepage 2
terpopuler
mobileapps