SIWALIMA.id > Berita
Kementerian PU Dukung Infrastruktur SDA di Maluku
Daerah , Headline | Rabu, 13 Mei 2026 pukul 15:27 WIT

AMBON, Siwalima.id - Kementerian Peker­jaan Umum siap men­dukung pembangunan infrastruktur sumber daya air di Provinsi Maluku.

Kesiapan itu disam­paikan Direktur Jen­deral Sumber Daya Air Kementerian PU Ar­nold Ritiauw yang juga putra Maluku saat bersama Gubernur Ma­luku dan para bupati dan walikota se-Maluku bertemu untuk membahas ke­butuhan infrastruktur sumber daya air, pe­ngendalian abrasi, hingga penyediaan air bersih di wilayah kepulauan Ma­luku di Jakarta, Senin (11/5).

“Ini komitmen saya untuk men­dukung pembangunan infrastruk­tur sumber daya air di Maluku secara bertahap,” ungkap Ritiauw dalam pertemuan itu.

Ritiauw mengaku, untuk Ben­dungan Way Apu di Pulau Buru di Provinsi Maluku, memang ditarget­kan harus selesai dan bendungan itu akan mulai beroperasi pada tahun 2027.

“Salah satu proyek yang menjadi perhatian kami adalah Bendungan Way Apu di Pulau Buru, yang me­mang ditargetkan selesai dan mulai beroperasi pada tahun 2027,” ucap Ritiauw.

Ritiauw menilai, Maluku mem­butuhkan pendekatan penanganan yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia, karena memiliki karakteristik wilayah kepulauan dengan begitu banyak masalah yang kompleks.

“Tipologi wilayah Maluku me­mang sangat berbeda dibanding daerah lain. Penanganannya tidak bisa disamakan, karena wilayah­nya kepulauan dan sangat kom­pleks,” ucap Ritiauw.

Selain Bendungan Way Apu, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air juga menurut Ritiauw, mulai mengkaji kebutuhan pembangu­nan infrastruktur air baku di Ke­pulauan Tanimbar sebagai dam­pak dari pengembangan Proyek Strategis Nasional Blok Masela.

Pasalnya, jika proyek Blok Masela mulai beroperasi, maka diperkirakan akan terjadi lonjakan jumlah penduduk yang cukup besar di Tanimbar, sehingga kebutuhan air baku ke depan pasti akan meningkat sangat signifikan.

Untuk itu, Ritiauw minta duku­ngan pemerintah daerah, terutama dalam penyelesaian persoalan lahan dan administrasi agar pe­laksanaan proyek ini dapat ber­jalan lancar.

“Kalau ada persoalan lahan atau administrasi, mohon segera dise­lesaikan supaya ketika pekerjaan di mulai semuanya sudah clean and clear,” pinta Ritiauw.

Meski pemerintah pusat siap memberikan dukungan penuh, Ritiauw memberikan catatan pen­ting terkait prosedur administrasi dan teknis. Bahkan ia minta para kepala daerah untuk segera ber­tindak nyata dengan menyiapkan do­kumen perencanaan yang matang.

“Para kepala daerah, tolong siap­kan masterplan-nya dan segera usulkan kepada kami. Kami siap bantu,” ucap Ritiauw sebagai syarat agar bantuan program dari pusat dapat segera direalisasikan.

Sebelumnya dalam pertemuan itu, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa menjelaskan, Maluku saat ini memiliki tiga Proyek Stra­tegis Nasional, yakni pembangu­nan Lapangan Abadi Blok Masela di Kabupaten Tanimbar, pemba­ngu­nan Bendungan Way Apu di Ka­bupaten Buru, serta pembangunan Ambon New Port atau Maluku Integrated Port di Pulau Ambon.

Khusus terkait Bendungan Way Apu, gubernur menyebut proyek tersebut menjadi sangat penting dalam mendukung program swasembada pangan nasional.

“Diperkirakan pada tahun 2027, bendungan itu sudah dapat berfungsi dan mengairi sekitar 10 ribu hektare lahan persawahan. Ini tentu menjadi bagian penting dari upaya pemerintah dalam mewu­judkan swasembada pangan nasional,” ujar gubernur.

Gubenrur menjelaskan, Kabu­pa­ten Buru merupakan salah satu sentra pangan utama di Maluku, bersama Kabupaten Maluku Te­ngah, Seram Bagian Barat, dan Seram Bagian Timur.

Selain persoalan pangan, tan­tangan besar yang dihadapi Maluku sebagai provinsi kepulauan de­ngan lebih dari 1.400 pulau.

“Wilayah kami lebih dari 92 per­sen adalah lautan, karena itu dam­pak perubahan iklim sangat kami rasakan, terutama bagi mas­yarakat pesisir yang menghadapi anca­man abrasi,” tandas gubernur.

Disisi lain, gubernur mengaku, abrasi di wilayah pesisir Maluku semakin masif dalam beberapa tahun terakhir, sehingga pemerin­tah daerah berharap ada duku­ngan pemerintah pusat dalam pembangunan talud pengaman pantai dan penanganan kawasan bantaran sungai.

Bahkan dalam pertemuan itu, gubernur juga menyoroti, terkait persoalan air bersih yang hingga saat ini masih menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Maluku, sebab tidak semua pulau di Maluku memiliki ketersediaan air bersih yang memadai.

Apalagi masih banyak masya­rakat di pulau-pulau kecil di Provinsi Maluku yang kesulitan mendapatkan akses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Keterbatasan ruang fiskal daerah membuat pemerintah daerah sangat bergantung pada dukungan pemerintah pusat untuk pemba­ngunan infrastruktur dasar.

“Karena itu, satu-satunya cara yang dapat kami lakukan adalah menyiapkan perencanaan yang baik, kemudian datang menyam­paikan langsung kebutuhan daerah kepada pemerintah pusat,” ucap gubernur.

Untuk diketahui, dipenghujung pertemuan itu, para kepala daerah yang hadir, secara teknis menyerahkan masterplan usulan kepada Ritiauw selaku Dirjen SDA melalui Plt Kepala Dinas PU Maluku dan disaksikan oleh gubernur.(S-20)

BERITA TERKAIT