AMBON, Siwalimanews – Perjalanan dinas yang diranÂcang dan diÂgelontor deÂngan angÂgarÂan besar secara kon-tinyu, diniÂlai rawan maniÂpu-lasi, serta berpotensi meÂruÂgikan keÂuangan neÂgaÂra.
Pejabat Bank Maluku Malut saat ini tengah disibukan dengan perjaÂlanan dinas berjamaah, dengan modus refreshment sertifikasi BSMR.
Refreshment sertiÂfiÂkasi BSMR adalah program pemeliharaan komÂpetensi bagi pemegang sertifikat manajemen risiko yang diterbitkan oleh Badan Sertifikasi Manajemen Resiko. Program ini bertujuan untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilan pemegang sertifikat agar tetap relevan dengan perkemÂbangan terbaru di bidang manajemen risiko.
Kegiatan seperti begini, lazimnya dilakukan secara daring dan tidak perlu menghabiskan perjalanan di-nas ratusan juta rupiah, apalagi di tengah program efisiensi yang diÂtetapkan Presiden Prabowo SuÂbianto.
Disebut menghamburkan uang, lantaran kegiatan itu diselengÂgarakan di Semarang, padahal bisa dilakukan melalui zoom meeting.
Sumber Siwalima di Kantor Pusat Bank Maluku mengatakan, kegiatan ini melibatkan 10 kepala divisi, selama 4 hari dan diperkirakan menghabiskan ratusan juta rupiah.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Kepala Divisi Sumber Daya MaÂnusia, Ridha Hasanusi tersebut, diduga dilakukan guna meraup keÂuntungan sebesar-besarnya, sebeÂlum pensiun pada bulan Oktober nanti.
âBayangkan diikuti 10 kepala divisi selama 2 hari, ditambah waktu pulang pergi berarti 4 hari dan SPPD untuk masing-masing kadiv 10-15 juta. Maka ada 100 juta lebih belum biaya yang harus dikeluarkan,â rinci sumber yang berkantor di lantai 3 Kantor Pusat Bank Maluku Malut.
Usulan PengurusÂ
Modus cari cuan, juga diduga dilakukan oleh Divisi SDM kala mengusulkan hasil RUPS LB, tenÂtang pengurus baru Bank Maluku Malut.
Pengurus baru bank milik daerah tersebut telah ditetapkan oleh peÂmegang saham di RUPS LB di Ternate sejak Maret lalu, namun hingga kini hasilnya belum juga disamÂpaikan ke Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta.
Sumber Siwalima di Bank Maluku Malut mengungkapkan sampai dengan saat ini, manajemen belum tuntas mengirim dokumen calon direksi dan komisaris baru.
Sumber itu mengaku memang ada beberapa nama seperti Ferdinand Alexander Hitipeuw, Ingrid Mauren Sahusilawane dan Ichwan telah diusulkan ke OJK. Sedangkan untuk calon komisaris Maichel Papilaya justru belum juga mengusulkan padahal seluruh dokumennya sudah tuntas.
âUntuk pak Maichel kemarin persyaratan yang diminta terakhir itu berkaitan dengan surat pernyataan tidak memiliki konflik kepentingan dan sudah diserahkan pada Senin 23 Juni kemarin. Namun yang tidak masuk akal yakni pengusulan tidak dilakukan secara bersamaan tetapi secara terpisah padahal dokumen telah lengkap,â beber sumber itu Sabtu (28/6).
Langkah manajemen Bank Maluku Malut yang melakukan pengusulan terpisah ini kata sumber tadi, tentu akan berdampak pada perjalanan dinas yang bertambah.
âYang terakhir diusulkan itu pak Ichwan, padahal pada saat yang sama seluruh dokumen dari pak Maichel sudah lengkap. Kan mestiÂnya dibawa usulan pak Maichel dan Pak Ichwan ke Jakarta bersama supaya jangan lagi SPPD baru,â kecam sumber tersebut.
Sumber itu menduga, pengusulan calon direksi dan komisaris dilakuÂkan langsung ke OJK pusat di JaÂkarta, artinya ketika pengusulan dilakukan secara terpisah maka akan berdampak pada SPPD yang terus dikeluarkan oleh Bank Maluku-Malut.
Dia lalu mencontohkan SPPD untuk Kepala Divisi SDM Ridha Hasanusi setiap kali perjalanan dinas ke Jakarta berkisar 10-15 juta rupiah.
âBayangkan kalau diusulkan secara terpisah itu berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk SPPD. Kalau sekelas Kepala Divisi SDM saja antara 10-15 juta sekali jalan berapa banyak yang harus dikeÂluarkan oleh Bank untuk pengÂusulan empat orang calon pengurus baru ini,â kesal sumber tadi.
Kebijakan manajemen Bank Maluku Malut yang tidak malakukan pengusulan direksi dan komisaris secara bersamaan, tentu akan mengÂakibatkan bank harus mengeluarkan uang yang banyak.
âAsal dalam berbagai kesempatan Direktur Utama selalu mengingatkan untuk efisiensi tapi lalu bagaimana dengan kebijakan pengusulan calon pejabat baru yang tidak secara bersamaan ini. Ini juga kan bagian dari menghamburkan uang,â tandas sumber itu.
Perjalanan Fantastis
Beberapa waktu lalu, publik meÂnyoroti juga perjalanan dinas direksi dan komisaris bank daerah itu. Pasalnya, perjalanan sangat tak masuk akal karena dilakukan hampir setiap minggu.
Diketahui, dua direksi yang kala itu paling sering âberburuâ perjaÂlanan dinas, adalah Direktur Utama Syahrisal Imbar dan Direktur PemaÂsaran Jetty Likur. Mereka setiap minggu bikin perjalanan dinas, padahal itu kegiatan kecil yang hanya diikuti staf, tapi mereka ikut juga. Ini modus dan salahi aturan.
Bahkan perjalanan dinas seorang Direktur Utama dalam satu tahun mencapai Rp1 miliar lebih dan berlangsung sejak tahun 2022 hingga 2024.
Persoalan perjalanan dinas ini juga bahkan telah diketahui GuberÂnur Maluku Hendrik Lewerissa. disebut telah mengetahui dugaan kejahatan tersebut.
Benarkah
Kepala Divisi SDM Bank Maluku-Malut, Ridha Hasanusi membeÂnarkan adanya kegiatan di Semarang Jawa Tengah yang diikuti oleh sejumlah petinggi bank plat merah tersebut.
Namun kegiatan itu bukan Refreshment sertifikasi BSMR, melainÂkan peningkatan kualitas komisaris komite komisaris dan kepala divisi.
âMemang benar ada kegiatan di Semarang, tapi bukan refreshment sertifikasi tapi peningkatan kualitas komisaris komite komisaris dan kepala divisi yang diinisiasi oleh KoÂmisaris,â ujar Ridha kepada Siwalima melalui telepon seluÂlernya, Senin (30/6).
Pelatihan tersebut lanjut Ridha, terkait dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 15 Tahun 2024 mengatur tentang InteÂgritas pelaporan keuangan Bank.
Ridha mengaku usulan pelaksana kegiatan di Semarang, berasal dari komisaris yang disampaikan kepada direksi dan divisi SDM hanya bertugas mengeksekusi dengan menyiapkan sejumlah hal seperti SPPD dan sebagainya.
âKegiatan ini diinisiasi oleh komisaris, karena ini terkait fungsi dan tugas komisaris dan komite komisaris jadi pesertanya komisaris, direktur kepatuhan, komite komiÂsaris beberapa kepala divisi sebagai KRN, tapi kalau soal kenapa memilih diluar Ambon itu saya tidak tahu,â jelas Ridha.
Terkait dengan informasi adanya menghambat proses pengusulan calon komisaris yang tidak bersamaan, Ridha memastikan penguÂsulan segera dituntaskan.
Menurutnya berdasarkan arahan OJK Pusat, maka pengusulan dilaÂkukan setelah seluruh dokumen dinyatakan lengkap dan setiap doÂkumen yang sudah lengkap langÂsung diserahkan.
âYang lama itu karena menunggu rekam jejak dari instansi dimana calon bertugas sebelumnya. Pak Ichwan punya itu tanggal 23 rekam jejaknya tiba dari BNI sekitar jam 02.00 langsung disempurnakan dilaÂkukan assessment oleh KRN langÂsung besoknya disampaikan ke OJK,â bebernya.
Terkait dengan calon komisaris Maichel Papilaya, Ridha membeÂnarkan jika pada 23 Juni sekitar pukul 14.00 WIT pihaknya menerima surat pernyataan konflik kepentingan sedangkan rekaman jejak dari DPR RI baru diterima pada 26 Juni pukul 15.07 WIT.
âSaat ini seluruh dokumen sudah siap dan ini sudah di assessment semua untuk disampaikan ke OJK dan hari Rabu dokumen sudah tiba di OJK untuk persiapan fit and proper test,â tandas Ridha.
Ridha beralibi tidak ada upaya menghambat pengusulan calon direksi dan komisaris yang telah ditetapkan dalam RUPS Luar Biasa.
Dikecam
Kebijakan manajemen Bank Maluku-Malut melakukan Refreshment sertifikasi BSMR di luar Ambon dinilai sebagai upaya mengÂuntungkan diri dan kelompok.
Akademisi Fisip Unpatti Jeffry Leiwakabessy mengecam keras keÂbijakan yang terkesan hanya mengÂhambur-hamburkan uang ditengah upaya perbaikan Bank Maluku-Malut.
âBank mandiri ini kan sebelumnya dana tidak cukup makanya kerja sama dengan Bank Jakarta, lalu sekarang jalan-jalan untuk kegiatan seremonial apakah itu tidak meÂrugikan bank,â kecam Leiwakabessy kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Senin (30/6).
Jeffry mengakui, memang ada pos belanja untuk kegiatan Refreshment sertifikasi BSMR, namun bukan berarti pejabat bank bebas mengguÂnakan sesuka hati.
Apalagi jika kegiatan tersebut dapat dilakukan secara virtual mestinya efisiensi itu yang diutaÂmakan bukan menghabiskan uang ratusan juta.
âBagi kami ini miris, karena petinggi bank tidak menerapkan prinsip efisiensi. Jangan jadikan Bank Maluku untuk meraih kekaÂyaan,â kesal Leiwakabessy.
Dalam kasus seperti ini, Gubernur sebagai pemegang saham pengenÂdali kata Leiwakabessy harus berÂsikap dengan melakukan evaluasi terhadap para pejabat yang mengÂgunakan kedudukan untuk menÂdapatkan keuntungan.
âPak Gubernur sebagai pemegang saham pengendali harus mengevaÂluasi seluruh jajaran bank Maluku-Malut agar bank ini dapat steril dari berbagai kepentingan pribadi,â jelasnya.
Hamburkan Uang
Sementara itu, Paulus Koritelu, akademisi Fisip Unpatti juga menilai kebijakan manajemen Bank Maluku Malut yang melakukan Refreshment Sertifikasi BSMR yang akan berÂlangsung di Semarang, Jawa TeÂngah, Selasa (1/7) adalah tidak tepat.
Kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Senin (30/6) Paulus menilai kebijakan melaksanakan kegiatan Refreshment Sertifikasi BSMRÂ adalah kebijakan yang tidak tepat ditengah kondisi Bank Maluku yang harus mencapai target semester 1 120 miliar, tetapi itu juga belum mencapai.
âIni sangat tidak efisien terhadap proyeksi keuangan negara, itu kemudian berbanding terbalik dengan logika pemberlakuan dan kebijakan-kebijakan yang sementara ambil. Saya kira perjalanan dinas itu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit,â ujarnya.
Ia mempertanyakan urgensi dari kegiatan itu sampai harus dilakukan diluar daerah, dan tindak lanjut dari kegiatan tersebut, jika tindaklanÂjutnya berdasarkan proyeksi perjaÂlanan dinas, maka bisa dikalkulasi secara rasional, bahwa dampak konkrit dan praktis perjalanan dinas itu harus menghadirkan banyak sekali manfaat positif yang bisa diukur dan terukur secara ekonomis.
âJika tidak mencapai target itu lalu ada pengeluarkan perjalan dinas yang semakin membludak, maka ini justru memperburuk kinerja perbanÂkan itu sendiri, padahal ada prinsip efisiensi yang bisa dilakukan itu kemudian teralokasi dalam anggaran yang sangat membludak,â ujarnya.
Ia menyayangkan kegiatan yang bisa dilakukan dengan zoom namun harus mengeluarkan anggaran yang besar. (S-20)