AMBON, Siwalima.id - Polres Seram Bagian Barat, saat ini menangani kasus dugaan tindak pidana kekerasan bersama dan penganiayaan yang terjadi di area pertambangan, Gunung Tembaga, Dusun Hulung, Desa Iha, Kecamatan Huamual, Sabtu (7/2) kemarin.
Dalam peristiwa tersebut, empat orang penambang asal Dusun Hulung dilaporkan menjadi korban dugaan pengeroyokan oleh sekelompok penambang dari Desa Luhu.
Kapolres SBB AKBP Andi Zulkifli, menjelaskan, insiden itu diduga berkaitan dengan persoalan antar pekerja tambang yang terjadi beberapa hari sebelumnya. “Peristiwa ini masih kami dalami. Dugaan sementara merupakan aksi balasan dari kejadian pada 4 Februari 2026. Namun semua pihak yang terlibat akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” janji kapolres dalam rilisnya yang diterima redaksi Siwalima, Senin (9/2).
Menurut kapolres, pada 4 Februari kemarin sempat terjadi perselisihan antara korban berinisial LOJ bersama beberapa rekannya dengan seorang penambang asal Desa Luhu berinisial ZW, terkait dugaan pengambilan hasil tambang.
Perselisihan tersebut, sempat diwarnai cekcok dan kekerasan ringan, namun telah dimediasi secara sementara oleh pihak setempat.
Namun, pada Sabtu (7/2), LOJ yang sedang berada di lokasi kerja, diduga diserang dari arah belakang menggunakan kayu dan kemudian dilempari batu oleh sekelompok orang. Akibatnya, LOJ mengalami luka serius berupa cedera pada kaki serta luka robek di bagian kepala dan tangan.
“Tiga korban lainnya, masing-masing berinisial BS (68), RS (19), dan LE (19), mengalami luka memar di bagian wajah dan kepala,” beber kapolres.
Para korban selanjutnya dievakuasi dari lokasi tambang ke Dusun Hulung dan selanjutnya mendapatkan perawatan medis. Korban LOJ dirawat di Puskesmas Iha dan direncanakan dirujuk ke Ambon, sementara tiga korban lainnya menjalani perawatan di Dusun Hulung.
Pada hari yang sama sekitar pukul 18.16 WIT, terjadi pembakaran puluhan sepeda motor milik para pekerja tambang yang terparkir di sekitar pangkalan ojek Bambu Kuning. “Polisi masih melakukan pendataan untuk memastikan identitas pemilik kendaraan serta keterkaitan peristiwa tersebut dengan kasus penganiayaan,” tutur kapolres.
Kapolres menegaskan, polisi telah mendatangi lokasi kejadian, membantu evakuasi korban, serta berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Iha dan Luhu guna menjaga situasi tetap kondusif.
“Kami melakukan penyelidikan terhadap para terduga pelaku, termasuk ZW bersama beberapa rekannya. Kami minta masyarakat percayakan penanganan perkara ini kepada kepolisian dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh situasi,” pinta kapolres.
Sebagai tindak lanjut, pada Minggu (8/2), Kapolres SBB bersama jajaran menggelar pertemuan dengan tokoh masyarakat dan pemerintah desa di Kecamatan Huamual untuk meredam potensi konflik lanjutan antara warga Desa Iha dan Desa Luhu.
Pertemuan pertama berlangsung pukul 10.30 WIT di kediaman Raja Negeri Iha, Muhammad Zein Latukaisupy.
Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa seluruh permasalahan diserahkan kepada pihak kepolisian untuk diproses sesuai hukum. Selain itu, Pemdes Desa Iha dan Luhu diminta bekerja sama, serta disepakati penempatan pos pengamanan di wilayah perbatasan kedua desa.
Selanjutnya, kapolres juga melakukan pertemuan di kediaman Kepala Desa Luhu, Abd Gani Kaliki, bersama jajaran pemerintah desa. Pertemuan tersebut membahas langkah penyelesaian kesalahpahaman antar penambang dari kedua desa.
Dalam pertemuan itu, disepakati agar untuk sementara waktu warga kedua desa tidak saling melintas wilayah masing-masing, guna menghindari gesekan lanjutan serta penempatan pos pengamanan di perbatasan desa.
“Kami mengedepankan penyelesaian secara persuasif dan menjaga stabilitas keamanan. Personel juga telah ditempatkan di titik-titik rawan untuk mencegah konflik susulan,” ucap kapolres.
Situasi kamtibmas di Desa Iha dan Luhu, serta wilayah pertambangan dan perbatasan kedua desa kini telah kondusif. (S-25)